Janji Luluskan Polwan Gagal, Guru PAUD dan Ketua Kornas TRC-PA Dipolisikan

Rekanbola – Selvi Setiawati didampingi orangtuanya, Wagiman Buang, warga Komplek TVRI, Desa Medan Estate, Kecamatan Percut Sei Tuan, melapor ke Mapolsek Percut Sei Tuan, pada 21 Juni 2017 lalu.

Wagiman dan Selvi mengaku ditipu oleh Aswan SPd (48), seorang guru PAUD beralamat di Jalan Pemuda Pancasila, Dusun 24, Pondok Danar, Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan dan kenalannya, Rusmini Supriadi alias Naumi (42), wanita yang beralamat di Jalan Bungur RT 4 RW 5, Kelurahan Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan Kota, Jakarta Selatan.

Keduanya sempat menjanjikan Selvi bisa lulus ujian masuk Polwan, dengan membayar sejumlah uang. Namun setelah uang ratusan juta diterima, Selvi ternyata tetap gagal lulus menjadi Polwan.

Polisi akhirnya menangkap Aswan ditangkap di kediamannya, disusul Naumi, pada Senin (17/12/2018) di Bandara Kualanamu, Deliserdang.

Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol Faidil Zikri, dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (20/12/2018) menjelaskan, penangkapan kedua orang tersebut tersangka berdasarkan laporan Wagiman Buang dengan No: LP/1230/K/VI/2018 Tgl 21 Juni 2018, dengan Arda Ningsih, Selvi Setiawati, Priyatin dan Tutur Marleono.

Diungkapkan Faidil, aksi penipuan itu terjadi pada tanggal 15 Nopember 2017 sekira jam 15.00 Wib.

Saat itu Wagiman Buang, Arda Ningsih dan Selvi Setiawati dibawa dan dikenalkan oleh Aswan kepada tersangka Rusmini Supriadi alias Naumi, yang mengaku sebagai Ketua Koordinator Nasional Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak (TRC-PA), bisa memasukkan Selvi sebagai Polwan.

Wagiman kemudian memberikan uang panjar sebesar Rp10 juta dan setelah itu Selvi diminta menyerahkan fotokopi KTP, KK dan pas photo miliknya.

Beberapa waktu kemudian, lanjut Kompol Faidil, Wagiman kembali diminta menyediakan uang sejumlah ratusan juta oleh Naumi. Wagiman yang sudah percaya, mengirimkan uang tersebut melalui transfer bank pada Februari 2018.

Baca Juga:   Fletcher: Publik Tak Menyadari Betapa Bagusnya Rooney

“Kemudian pihak korban disuruh datang ke Polda Sumut oleh tersangka Naumi dengan alasan mau diukur tinggi badan dan diminta uang sebesar Rp5 juta,” kata Kompol Faidil.

Selanjutnya, pada Maret 2018, Selvi kembali disuruh datang ke Polda Sumut oleh Naumi dengan alasan akan dibawa menemui Kapolda. Lagi-lagi dia meminta disiapkan uang sebesar Rp25 juta.

“Dalam 2 kali pertemuan tersebut, tersangka Aswan ikut mendampingi. Dan selanjutnya pada bulan Maret 2018, Aswan dan Selvi Setiawati datang ke Jakarta sebanyak 2 kali sesuai permintaan Naumi,” ungkapnya.

Keduanya pun diajak Naumi ke Mabes Polri dan bertemu dengan seorang jenderal polisi. Namun di sana tidak ada dibicarakan tentang urusan masuk polisi.

“Korban hanya diajak berfoto dengan jenderal polisi di Mabes Polri,” jelas Kompol Faidil.

Setelah itu, Selvi Setiawati kemudian dibawa suntik ke dokter orthopedi oleh Naumi dan lagi-lagi kedua orang itu meminta uang tambahan.

Aksi penipuan itu mulai terkuak ketika pada saat pembukaan pendaftaran Polwan. Aswan saat itu ikut mendampingi Selvi Setiawati mengurus surat-suratnya.

Saat pendaftaran dan dilakukan pengukuran tinggi badannya, ternyata Selvi Setiawati tidak memenuhi syarat, sehingga perempuan itu dinyatakan gugur.

Selvi kemudian melaporkan kegagalan itu kepada orangtuanya Wagiman Buang, yang lantas menghubungi Naumi. Saat itu, Naumi berjanji akan datang ke Medan untuk mendampingi pengurusan Selvi.

Naumi pun datang ke Medan dan membawa Selvi Setiawati ke Sekolah Polisi Negara (SPN) Sampali untuk kembali mendaftar.

Lagi-lagi, Selvi harus pulang tanpa hasil, karena memang tinggi badannya tidak memenuhi syarat. Alhasil, Wagiman pun meminta uang yang telah diberikan kepada Naumi segera dikembalikan.

Wagiman dan Naumi pun bertemu kembali untuk kesepakatan pengembalian uang pada tanggal 19 April 2018 di penginapan Jalan Iskandar Muda, Medan.

Baca Juga:   6 Zodiak yang Bicaranya Paling Lantang dan Frontal

“Saat itu, tersangka Naumi tidak bisa mengembalikan uang korban, sehingga dibuatkanlah surat perjanjian bermaterai 6000 dimana Rusmini Supriadi alias Naumi akan mengembalikan uang sebesar Rp179 juta dengan mencicilnya,” sebut Kompol Faidil.

Dalam perjanjian tersebut juga dituliskan, Naumi akan mengembalikan Rp100 juta pada Juni 2018 dan sisanya akan dilunasi pada Agustus 2018.

“Namun saudari Rusmini Supriadi alias Naumi tidak ada mengembalikan uang sesuai perjanjian dan setelah itu korban susah berhubungan dengan saudari Naumi” imbuh Kompol Faidil.

Karena merasa ditipu dan uangnya telah digelapkan, Wagiman Buang kemudian membuat laporan pengaduan ke Polsek Ps Tuan.

“Terhadap saudara Aswan Spd telah dipanggil sebanyak 2 kali, namun tidak datang hadir sehingga dilakukan upaya membawa tersangka dan melakukan penangkapan di rumahnya pada, Senin (17/12/2018) kemarin,” tegas Faidil.

Di hari yang sama, tersangka Naumi pun ditangkap, saat baru tiba dari Jakarta di Bandara Kualanamu, Deliserdang.

Polisi mengamankan barang bukti berupa; 1 lembar surat perjanjian bermaterai 6000, 1 buku tulis, 1 rekening koran, 6 lembar slip transfer ATM, 1 lembar tanda bukti setor uang Bank BRI dan 2 lembar booking tiket Lion.

“Kedua tersangka diduga melanggar pasal 378 Yo 372 KUHPidana dengan ancaman 4 tahun penjara,” pungkasnya.