Jatuh Bangun Dominic Thiem Menuju Final French Open

REKANBOLA – Dalam waktu kurang lebih 24 jam, emosi petenis berkebangsaan Austria yang berusia 25 tahun, Dominic Thiem campur aduk ketika melalui dua pertandingan terakhir di Roland Garros.

Pada hari Sabtu (08/06), Thiem menyelesaikan laga epik lima set melawan petenis peringkat 1 dunia, Novak Djokovic dan menjadi petenis Austria pertama yang melenggang ke final Grand Slam lebih dari satu kali.

Namun pada hari minggu (09/06), setelah mengklaim set kedua di final melawan petenis yang sekarang telah mengantongi 12 gelar French Open, Rafael Nadal – satu-satunya set yang Thiem menangkan di Roland Garros melawan Nadal – petenis unggulan keempat, Thiem hanya berhasil memenangkan dua game di dua set terakhir sebelum menelan kekalahan pahit di final French Open untuk kali kedua secara beruntun.

“Saya seperti tiba dari surga ke neraka,” ungkap Thiem. “Tetapi tentunya cukup menyulitkan, karena anda harus mengalahkan tujuh petenis handal untuk memenangkan turnamen ini dan di akhir turnamen anda harus mengalahkan satu atau dua legenda yang telah memenangkan paling tidak 15 gelar Grand Slam dan jika anda tidak 100 persen siap di setiap aspek yang anda miliki, maka anda tidak akan berhasil.”

Setelah kehilangan satu set pada tiga pertandingan pertamanya di Roland Garros musim ini, Thiem menemukan ritmenya ketika mengalahkan Gael Monfils dan Karen Khachanov tanpa kehilangan lebih dari empat game di setiap setnya.

Thiem lalu meningkatkan level permainannya demi menumbangkan Djokovic, tetapi Nadal berdiri tegak di antara dirinya dan Coupe des Mousquetaires (trofi French Open nomor tunggal putra).

“Saya memenangkan enam pertandingan yang menakjubkan. Lalu saya mengalahkan salah satu legenda terbaik di dunia tenis. Kurang dari 24 jam, saya harus kembali ke lapangan melawan legenda lainnya, melawan petenis clay-court terbaik sepanjang masa,” tukas Thiem.

Baca Juga:   Ini Kejutan Terbesar Dalam Karier Maria Sharapova

“Hal itu juga memperlihatkan bagaimana sulitnya memenangkan Grand Slam saat ini. Di hari sebelumnya, saya merasa begitu senang dengan kemenangan di semifinal, dan di final, saya kalah. Saya gagal mewujudkan mimpi terbesar saya, jadi saya tidak merasa sebaik seperti ketika memenangkan semifinal.”

Ketika menghadapi Nadal, Thiem bertanding untuk hari ketiga secara beruntun setelah semifinal yang seharusnya selesai pada hari Jum’at (07/06) ditunda sampai Sabtu (08/06) akibat hujan yang terus mengguyur Paris. Tetapi bagi Thiem, hal tersebut tidak menjadi alasan akan kekalahannya di final, hanya saja Nadal bermain jauh lebih baik daripada dirinya.

“Itu final Grand Slam, jadi saya tidak benar-benar merasa lelah, tetapi tentu sedikit meninggalkan beberapa jejak dari empat hari terakhir dan turnamen yang panjang ini,” imbuh Thiem.

“Tetapi, saya bertanding melawan petenis yang memenangkan turnamen ini 12 kali, jadi itu (kelelahan) bukan alasan kekalahan saya.”

“Saya telah mengerahkan semua kemampuan saya dalam dua pekan terakhir. Itu yang bisa saya lakukan. Tidak cukup baik di akhir turnamen, tetapi saya tetap melangkah lebih jauh.”