Kabut Asap di Riau Sudah Level Bahaya, Ibu Hamil dan Balita Paling Rentan

REKANBOLA – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak buruk buat kesehatan. Asap ini terutama paling berdampak pada ibu hamil, balita, anak-anak dan lansia.

“Kabut asap sekarang ini sangat berdampak buruk buat kesehatan. Ini karena ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) sudah pada tahap berbahaya yang terjadi,” kata dr Dewi Wijaya SpP dari RS Aulia Hospital Pekanbaru di Posko Kesehatan, DPW PKS Riau, di Pekanbaru, Selasa (17/9/2019).

Menurutnya, dengan kondisi asap saat ini ibu hamil rentan terkena penyakit. Tidak hanya itu, janin dalam kandungan juga bisa terimbas dengan perkembangan yang buruk.

“Dampak terburuknya, perkembangan janin tapi tentu tidak bisa langsung menggeneralisiri karena asap. Kalau hamil pada semester awal, asap bisa berpengaruh pada perkembangan janin. Kalau sudah besar (janin) tidak banyak pengaruh karena pembentukan janin sudah besar,” kata Dewi.

Mencegahnya, kata Dewi, utamakan pada penanganan diri sendiri dan lingkungan. Penanangan diri sendiri, maksudnya agar ibu hamil selalu menggunakan masker baik dalam rumah. Menghindari aktivitas di ruangan terbuka.

“Menggunakan masker ini cara terbaik, termasuk dalam rumah. Apakah masker biasa yang biasa dipakai, atau masker N95, ini meminimalisir kontak udara di luar,” kata Dewi.

Menurut Dewi, persoalan masker apakah yang biasa di pakai atau jenis masker N95, tidak masalah. Kedua jenis masker ini sama-sama berpungsi menghalang partikulan yang halus.

“Selama inikan ada perdebatan, mana sebenarnya masker yang harus dipakai saat kabut asap. Masker yang biasa juga tak masalah, jenis N95 juga bagus. Jadi tak masalah soal maskernya,” kata Dewi.

Menurut Dewi, selain asap berbahaya pada ibu hamil, juga sangat rentan pada balita, anak-anak dan Lansi.

Baca Juga:   10 Alasan kenapa Pemain Sepakbola Sering Bikin Wanita Cantik Kepincut

“Jadi balita, anak-anak dan lansia juga rentan terkena penyakit,” kata Dewi.

Lantas bagaimana masyarakat yang kondisinya sehat? Menurut Dewi, dalam penelitian soal asap yang terjadi tahun 2015, diketahui dambak buruknya dirasakan kemudian hari.

“Hasil penelitian kita tahun 2015 yang kondisinya sehat diketaui belakangan hari diketahui penurunan pungsi paru. Ini kondisi mereka yang pernah terpapar asap,” katanya.

Jika kondisi sehat saat ini, kata Dewi, dampaknya tidak akan terlihat sekarang. Namun ini bisa berdampak beberap tahun kemudian. Yang akan dirasakan adalah penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

“Karena ISPU dengan PM10 sudah di atas 300 partikulat matter yang bisa masuk langsung lewat udara. Ini yang berbahaya untuk kesehatan masyarakat. Tak hanya warga, kondisi inipun membahayakan mahluk hayati,” kata Dewi.