Kaus Band Lusuh Bisa Jadi Harta Karun Berharga Mahal

Rekanbola – Akhir pekan tiba, saatnya untuk berdiam diri di kamar yang berisi tumpukan kaus lusuh. Berjam-jam waktu bisa dibunuh dengan kegiatan yang tak semua orang suka.

Mungkin aneh terdengar untuk banyak orang. Namun hal itu sudah menjadi ritual rutin bagi mereka sang kolektor kaus band.

Ada kepuasan tersendiri bagi mereka saat mengeluarkan tumpukan kaus band yang sudah tertata rapih di lemari, kemudian dikeluarkan hanya untuk dipandangi, difoto, dan akhirnya dipamerkan di laman media sosial.

“Itu memang kegiatan saya kalau lagi libur. Kaus-kaus itu saya pajang, saya jejer, kemudian saya lipat lagi. Hati saya puas,” kata Andi Tri Susilo.

Jangankan orang lain, istrinya pun terheran-heran dengan hobinya itu. ‘Beli kaus kok mahal banget sampai Rp 500 ribu, mana belel lagi’. Seruan itu sering terdengar dari mulut istrinya.

Kaus band yang dia kumpulkan memang kaus bekas yang bahkan usianya sudah puluhan tahun. Rata-rata kaus band yang dikumpulkannya diproduksi saat tahun 1980an saat musik aliran musik britpop berjaya.

Dia memang sangat doyan dengan aliran musik pop yang berasal dari tanah Inggris. Mulai dari The Verve, Blur, Suede, The Cure dan masih banyak band britpop lain yang sudah akrab di telinganya.

Setiap kali dia membeli album fisik band britpop, kaus rilisan dari band itu seakan wajib untuk melengkapinya. Hal itu terus berlangsung, hingga tanpa sadar koleksi dalam bentuk kaus sudah penuh di lemari pakaiannya. Bayangkan sudah ada 500an kaus menumpuk di kamarnya.

Hasratnya untuk sekadar memakai kaus band idola, berubah menjadi hasrat pemburu. Nafsunya memuncak ketika tengah iseng berselancar di internet kemudian melihat ada kaus britpop langka yang dia lihat baik.

Baca Juga:   Penemuan Kerangka Manusia 3000 Tahun di Aceh, Ada Periuk Bekal Kubur

Pernah satu ketika Andi sangat ini melengkapi koleksi kaus The Verve yang bergambar muka sang vocalis Richard Ashcroft. Sangat sulit untuk mendapatkan kaus seri itu. Bahkan di pasaran harganya sudah mencapai Rp 7 juta.

Akhirnya dia menemukan salah salah satu kolektor di Indonesia yang memiliki kaus seri itu. Namun empunya tak mau melepasnya. Kepalang napsu, Andi menerornya dengan terus mengirimkan pesan WhatsApp sampai akhrinya yang punya pusing dan mau melepasnya dengan mahar uang Rp 2 juta dan kaus Blur yang dimiliki Andi senilai Rp 2 juta.

Koleksi kaus band tak jauh berbeda dengan kolektor barang antik lainnya. Tak ada harga acuan, yang pasti semakin tua dan langka, maka semakin mahal kaus tersebut.

Menurut Utek, kolektor kaus yang sering tampil sebagai pembicara, nama besar band juga tidak menjamin harga kaus tersebut akan semakin mahal. Justru band britpop underdog yang hanya terkenal di negaranya saja bisa lebih mahal dari kaus band official sekelas Metallica.

“Gini, misalnya kaus Metallica official yang keluaran album pertama, menurut saya itu enggak rare walaupun harganya tinggi juga. Tapi band-band yang hanya laku di negaranya Inggris, kemudian produksi kaus untuk dijual di negaranya saja itu bisa jauh lebih mahal,” terangnya.

Utek yang mengaku memiliki koleksi 300an kaus band beraliran britpop dan shoegaze ini juga sering melakukan jual beli kaus. Dia melakukannya bukan untuk mencari nafkah, tapi untuk memuaskan hasratnya.

Dia pernah menjual kaus band shoegaze asal Inggris, Lush kepada kolektor asing yang laku dengan harga US$ 1.048, saat itu dolar AS masih di kisaran Rp 13.000. Itu artinya kaus itu dihargai sekitar Rp 13 juta lebih. Padahal sebelumnya dia membeli kaus tersebut sekitar Rp 300 ribuan.

Baca Juga:   Kim Jong Un Sebut Senjata Nuklir Jamin Kedaulatan

“Untuk kaus ini sebenarnya enggak ada harga pasarannya, ya tergantung yang punya mau matok harga berapa. Bahkan pernah ada teman juga jual kaus The Velvet Underground tahun 1987 sampai Rp 32 juta,” tambahnya.

Selain tingkat kelangkaan dan usia dari kaus itu, proses tawar menawar juga ikut menentukan harga. Afrian Zulkifli pernah memamerkan kaus koleksinya di media sosial, ada salah satu kolektor tertarik dengan kaus Nirvana album Bliss miliknya.

Lantaran masih sayang dengan kaus itu, pemuda berusia 27 tahun itu bertahan dari rayuan yang dilancarkan si penawar. Bahkan kausnya itu sempat ditawar hingga US$ 1.000 yang jika dikalikan dengan kondisi kurs saat ini bisa mencapai Rp 14,8 juta.

“Ibaratnya kalau loe punya duit belum bisa beli karena yang punya belum tentu mau jual. Jadi kita bersyukur banget kalau kaus incaran bisa dapat,” tuturnya.

Padahal dia mendapatkan kaus itu dengan merogoh kocek Rp 6 juta. Afrian rela mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk melengkapi koleksi kaus Nirvananya.

Menarik memang mendengar cerita-cerita itu. Namun rasanya tidak semua orang bisa melakukannya. Harus benar-benar suka dengan aliran musik itu, punya pengetahuan lebih tentang pemusiknya. Lagi pula mereka tidak berniat untuk mencari keuntungan, hanya sekedar memuaskan hasrat saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *