Kisah Mantan Pimpinan TNI AU Bergaji Rp 189 Ribu Saat Jadi Komandan Skadron

REKANBOLA – Marsekal TNI (Purn.) Agus Supriatna punya masa sulit sebelum sesukses sekarang. Masa-masa itu ia lewati dengan suka cita. Apalagi didampingi oleh istri tercinta, Bryan Timur Rahmawati.

Kisah Agus diceritakan dalam buku “DINGO” Menembus Limit Angkasa, Biografi KSAU Marsekal TNI Agus Supriatna”, terbitan Buku Kompas 2016. Agus menceritakan masa-masa saat ia menjadi Komandan Skadron di Yogyakarta pendidikan tahun 1989.

Saat itu Agus dan keluarganya pindah ke Lanud Adusutjipto, Yogyakarta. Agus hanya memperoleh gaji Rp 189.000. Dan ternyata uang itu cukup untuk sebulan.

“Uang itu saya bagi-bagi, masing-masing keperluan ditaruh di amplop sendiri-sendiri. mas Agus juga sudah kredit barang. Jadi, waktu nikah sudah lengkap perabotan rumah tangganya, walaupun bunyinya ‘dit-dit-dit” semua karena kredit,” kata Bryan.

Uang itu juga disisihkan untuk sebagian diberikan pada orangtua mereka. “Saya harus sisihkan 25 ribu rupiahnya untuk bayar kreditan. Terus kirim ke orangtua suami. Sedangkan orangtua saya sendiri menolak diberi, karena masih bisa hidup tanpa pemberian anak,” kata Bryan.

Menjelang berakhirnya masa tugas selama dua tahun, keluar keputusan bahwa Agus harus pindah ke Jakarta, menempati posisi sebagai Pabandya Opsudstrat Paban II/Ops Sopsau di Lanud Halim Perdanakusuma. Kepindahan Agus malah membuat syok, karena tabungan Agus yang tak banyak untuk membeli rumah di Jakarta.

“Oh, itu syok banget. Ke Jakarta sedih sekali karena tahu bahwa setelah menjadi Komandan Skadik, tabungan Mas Agus paspasan. Terpikir, kalau ke Jakarta kan harus beli rumah. Saat itu harga rumah di kompleks Halim sudah mahal. Nah itu kan bikin sedih. Terus saya bilang, Sudahlah Pa, yakinlah kita tidak akan jadi fakir miskin. Pasti Tuhan tidak akan jadikan kita fakir miskin. kata Bryan sambil meyakini Agus saat itu.

Baca Juga:   Putus Dari Gigi Hadid, Zayn Malik Langsung Pamer Bikin Tato Baru

Bryan mengatakan untuk menghadapi masalah ini, harus cari rumah di Jakarta. “Rumah-rumah dinas di Jakarta kan harus over VB (keputusan sewa-menyewa), harus diganti dengan uang pengganti. Akhirnya terpikir untuk tinggal di Bandung saja karena jarak Bandung-Jakarta dekat. Jadi suami di mes, saya dan anak-anak di Bandung, tutur Bryan.

Itulah masa-masa paling prihatin yang dirasakan oleh Bryan dan Agus, ketika harus pindah selepas menjabat sebagai Danskadik 102 Yogyakarta, ke Jakarta. Kalau dilihat, teman-teman semua sudah pada bisa punya mobil, punya rumah. Kita belum punya apa-apa, lanjut Bryan mengkisahkan suaminya sebagai prajurit TNI.