Kisah Pengungsi Gempa Lombok Melawan Trauma dan Dingin

REKANBOLA – Dingin dan gelap, hanya temaram lampu neon ber-watt rendah menerangi lokasi pengungsian korban gempa bumi di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur.

Lebih dari 200 orang berlindung di tenda terpal buatan swadaya masyarakat ini tanpa dinding dan sekat yang kuat. Mereka mengalun mimpi dari balik selembar selimut, sementara fisik tetap awas manakala guncangan gempa susulan datang.

Senin (30/7), menunjukkan hampir pukul 22:00 waktu setempat, adalah malam kedua para warga di Desa Sajang menginap di lokasi pengungsian. Beberapa warga terlihat masih terjaga. Tiar, salah satu pengungsi, memilih berjalan ke luar tenda.

“Belum bisa tidur,” ungkapnya gelisah, sambil memandangi anak-anaknya yang tengah makan malam di dalam tenda.

Ingatan tentang guncangan gempa susulan masih menahannya untuk tidur. Semalam sebelumnya, Ahad (29/7), belasan kali guncangan gempa ia rasakan. Hal itu semakin membuat dirinya was-was.

“Itu sampai hampir Subuh. Belum lagi udara malam yang semakin dingin. Saya sampai tidak bisa tidur,” kisah Tiar. Desa Sajang terletak di kaki Gunung Rinjani, sehingga udara dingin pegunungan begitu terasa. Jaraknya sekitar 2 km dari pintu masuk pendakian Gunung Rinjani.

Tak jauh dari lokasi pengungsian, terdapat sekolah dasar yang bangunannya mengalami kerusakan cukup besar. Tiar mengungkapkan, hampir semua bangunan berbahan dasar beton mengalami kerusakan parah, tak terkecuali rumah miliknya sendiri.

“Hancur semua. Rumah tetangga-tetangga lainnya juga pada hancur. Ada yang hancur separuh, ada yang rubuh total. Cuma rumah kayu yang tidak rusak parah,” jelas Tiar.

Saat menjelaskan keadaan rumahnya yang hancur total, Tiar mengingat kembali momen ketika ia berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya dari hantaman gempa.

Baca Juga:   Mengenal WannaCry, Ransomware yang Serang Dunia

Ketika itu, Ahad (29/7), ia tengah memasak. Seketika guncangan hebat mengejutkannya, disertai plafon atap yang rubuh. Ia langsung menyelamatkan diri dan membawa anak serta ibunya ke luar rumah. Beberapa menit setelahnya, rumah itu langsung luluh lantak.

Tak ada harta benda yang sempat diselamatkan. Yang ia pikirkan saat itu adalah bagaimana menyelamatkan keluarganya.

“Saya mentingin nyawa, sudah tidak kepikiran harta benda. Aduh, itu kalau diingat lagi, kalau saja kita semua tidak langsung ke luar rumah, mungkin sudah langsung tertimbun beton rumah,” ungkap Tiar bergidik.

Memilih bertahan di pengungsian

Ratusan jiwa yang mengungsi di lapangan terbuka dekat SDN Sajang belum ada keinginan untuk kembali ke rumah mereka. Meski kondisi tenda pengungsian masih seadanya, mereka memilih bertahan di sana.

Pengungsi lainnya, Nazian (27), juga tidak berani mengambil risiko untuk kembali ke rumah. Selain karena masih adanya gempa susulan, rumahnya kini hanya tinggal separuh sehingga tidak bisa ditinggali.

“Separuh rumah kami hancur, separuhnya lagi masih berdiri. Tapi tidak mungkin kami tinggal di sana. Takut kena reruntuhan, tidak aman,” tutur Nazian, masih trauma.

Ia kembali membungkus tubuhnya dengan selimut. Di beberapa bagian tubuhnya terlihat luka goresan benda tumpul.

“Iya, ini bekas luka kena runtuhan beton. Saya sama anak saya sempat terkubur runtuhan tembok. Tapi alhamdulillah istri saya langsung menyelamatkan kami. Kalau sedikit saja telat, tidak tahu lah nasib kami,” kenang Nazian.

Senin (30/7) malam itu Nazian baru saja selesai mendapatkan pengobatan di posko medis ACT. Luka lebam di tangan, kaki, dan perutnya masih membuatnya nyeri.

Perihal sampai kapan ia dan keluarga tetap bertahan di tenda pengungsian, Nazian tidak memiliki rencana pasti.

Baca Juga:   Ditjen Imigrasi Berencana Cabut Paspor Rizieq Shihab

“Pokoknya sampai gempa benar-benar berhenti. Mungkin akan lama di sini, tapi mau gimana lagi. Yang penting keluarga aman. Toh rumah kami juga tidak bisa ditinggali. Belum tahu juga kapan akan renovasi,” ungkap Nazian meringis.

Seusai berobat malam itu, ia kembali masuk ke dalam tenda, menempati sepetak kecil ruang untuk tidur bersama keluarganya.

Di sekelilingnya, lansia, orang dewasa, hingga anak-anak berbaur berdesakan. Semua mencoba terlelap, dalam dingin dan perasaan awas bilamana gempa mengguncang kembali.

 

( Sumber : detik.com )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *