Korban Banjir Bandang di Sentani Bertambah, 32 Jenazah Dievakuasi

REKANBOLA – Korban banjir bandang yang melanda Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura Sabtu (16/3) malam, hingga pagi ini sudah mencapai puluhan orang. Tim SAR yang dikerahkan menemukan sedikitnya 32 jenazah warga. Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah karena proses evakuasi terus dilakukan.

Sekretaris BPBD Provinsi Papua, Wisnu yang dihubungi REKANBOLA mengatakan, Tim SAR terus mencari warga yang dilaporkan hilang. “Laporan terakhir 32 korban meninggal yang sudah dievakuasi. Semuanya di bawa ke RS Bhayangkara, Jayapura,” ujarnya, Minggu (17/3).

Lokasi banjir, lanjut dia, tersebar di 9 kelurahan. Banjir terjadi dari atas pegunungan dengan membawa berbagai material terutama kayu-kayu besar.

Sementara berdasarkan siaran pers Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, banjir bandang yang melanda 9 kelurahan di Kecamatan Sentani Kabupaten Jayapura Provinsi Papua pukul 21.30 WIT telah menimbulkan banyak korban dan kerusakan.

Banjir melanda Kelurahan Barnabas Marweri, Piter Pangkatana, Kristian Pangakatan, Didimus Pangkatana, Andi Pangkatana, Yonasmanuri, Yulianus Pangkatana, Nelson Pangkatan, dan Nesmanuri.

“Saat ini banjir telah surut meninggalkan lumpur, kayu-kayu gelondongan dan material yang terbawa banjir bandang. Tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi dan pencarian korban,” ujarnya.

Kerusakan meliputi 9 rumah rusak terdampak banjir di BTN Doyo Baru, 1 mobil rusak atau hanyut, jembatan Doyo dan Kali Ular mengalami kerusakan, sekitar 150 rumah terendam di BTN Bintang Timur Sentani, kerusakan 1 pesawat jenis Twin Otter di Lapangan Terbang Adventis Doyo Sentani. Dampak kerusakan masih akan bertambah karena pendataan masih dilakukan.

Beberapa warga sejak semalam mengungsi. Sekitar 50 orang di Kantor Bupati Jayapura Gunung Merah, 70 orang di Kediaman Bupati Jayapura, dan beberapa warga mengungsi di Kantor Basarnas Jayapura.

Baca Juga:   Rutan Siak Dibakar, Diduga Berawal dari Kerusuhan Sejumlah Tahanan

Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI dan relawan melakukan penanganan darurat. Posko akan didirikan. Sebagian bantuan disalurkan kepada masyarakat terdampak.

Melihat dampak banjir bandang dan landaan banjir bandang yang terjadi di Sentani, kemungkinan disebabkan adanya longsor di bagian hulu yang kemudian menerjang di bagian hilir. “Karakteristik banjir bandang yang sering terjadi di Indonesia diawali adanya longsor di bagian hulu kemudian membendung sungai sehingga terjadi badan air atau bendungan alami,” jelas Sutopo.

Karena volume air terus bertambah kemudian badan air atau bendung alami ini jebol dan menerjang di bagian bawah dengan membawa material-material kayu gelondongan, pohon, batu, lumpur dan lainnya dengan kecepatan aliran yang besar. Ini ditambah dengan curah hujan yang berintensitas tinggi dalam waktu cukup lama. Pada tahun 2007, kejadian banjir bandang juga pernah terjadi di Distrik Sentani.

“Penanganan darurat masih terus dilakukan. BPBD bersama unsur lainnya masih melakukan penanganan di lapangan,” pungkasnya.