Langganan Longsor, Distribusi Barang di Jalur Trenggalek-Ponorogo Terganggu

Rekanbola – Tanah longsor yang terus-menerus terjadi selama sepekan terakhir di Kilometer 16 jalur utama Trenggalek-Ponorogo berdampak langsung terhadap akses transportasi orang dan barang antarkabupaten dan antarprovinsi.

Sistem buka-tutup jalur untuk mengantisipasi longsor juga merepotkan sejumlah pengemudi kendaraan pengangkut barang. Banyak di antaranya yang terpaksa mengantre berjam-jam atau bahkan bermalam di jalan demi bisa melewati jalur tersebut.

“Saya sudah antre di jalur longsor sejak kemarin sore,” kata salah satu pengemudi truk pengangkut pasir asal Ponorogo, Juwadi kepada rekanbola, Senin (3/9/2018).

Padahal saat berangkat sehari sebelumnya, ia juga harus mengantre di lokasi longsor di Kilometer 16 Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu selama lebih dari lima jam, karena berulangkali terjadi longsor susulan.

“Saat berangkat itu saya sampai jam 12 siang antrenya, sekarang juga masih antre lagi. Ya mau bagaimana lagi memang kondisi jalannya seperti ini,” lanjutnya.

Juwadi mengatakan akibat sering tertahan di jalur longsor, omzet usahanya juga menurun sebanyak 50 persen dibanding hari-hari biasa. Penyebabnya, jalan nasional itu menjadi akses satu-satunya untuk belanja pasir ke wilayah Blitar.

“Saya ambil pasir dari Blitar kemudian saya bawa ke Ponorogo. Biasanya sehari itu sekali angkut, tapi kalau musim longsor ini dua hari sekali bahkan bisa tiga hari,” terangnya.

Juwadi menambahkan, jalur alternatif yang ada di sekitar lokasi kejadian tidak memungkinkan dilalui oleh kendaraan angkutan berat sepertinya.

“Kalau lewat Pacitan atau Kediri jelas tidak mungkin, karena jarak tempuhnya lebih jauh dan butuh biaya bahan bakar hingga tiga kali lipat. Padahal satu truk pasir itu saya jual antara Rp 1,4 juta sampai Rp 1,5 juta,” tambahnya.

Baca Juga:   Banjir Sentani Papua, Buaya dan Hiu Terdampar di Rumah Warga

Menurutnya, kondisi serupa juga dialami oleh ratusan truk lain yang mengangkut pasir maupun sembako. Namun untuk angkutan jarak jauh tujuan Jawa Tengah maupun Jakarta akhirnya memilih untuk beralih jalur melalui Kediri.

“Kalau jarak jauh ke Jakarta atau Jawa Barat masih memungkinkan walaupun harus melingkar ke Kediri, seperti truk cabai maupun sayur-sayuran, karena mereka butuh cepat. Kalau ikut antre di longsor ini bisa busuk dagangannya,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Supriyono, pengemudi truk asal Jawa Tengah. Ia mengaku harus mengantre selama lebih dari tujuh jam menunggu proses pembersihan longsor selesai. Di sisi lain, supir angkutan meubel ini khawatir dengan tanah longsor yang sering terjadi, meskipun berkali-kali dibersihkan.

“Pokoknya bisa senam jantung kalau lewat sini, tapi ya mau bagaimana lagi, jalannya yang paling dekat ini, saya memilih untuk menunggu,” kata Supri.

Tak hanya truk pengangkut barang, angkutan bus antarkota Trenggalek-Ponorogo juga ikut terganggu. Para pengemudi akhirnya memilih untuk melangsir penumpang dari kedua sisi longsor untuk dilanjutkan oleh bus lain.

Sementara itu, Kapolres Trenggalek, AKBP Didit Bambang Wibowo Saputra, mengatakan hingga saat ini tim dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) masih terus melakukan upaya pembersihan material longsor.

Proses pembersihan juga berulangkali harus dihentikan karena kondisi tebing yang cukup labil dan sering terjadi longsor susulan. Sedangkan akses jalan harus tetap dibuka, meskipun harus menggunakan sistem buka-tutup.

“Kalau memang kondisinya mengkhawatirkan seperti tadi malam maka kami tutup total dan ternyata benar, longsor susulan terjadi. Hari ini tadi sudah bisa dilalui dengan sistem buka tutup,” terang Didit secara terpisah.

Menurutnya, kendati longsor yang kerap terjadi di Km 16 ini cukup mengganggu arus lalu lintas dari kedua arah, namun untuk akses kendaraan sepeda motor dan mobil berkapasitas kecil masih bisa dialihkan melalui jalur alternatif.

Baca Juga:   Dihantam puting beliung, 67 rumah di Indragiri Hilir amburadul

“Kami sudah koordinasi dengan masyarakat untuk penggunaan jalur alternatif di sekitar lokasi longsor, namun maksimal hanya untuk minibus dan kendaraan kecil, sedangkan untuk truk dan angkutan berat kami masih belum bisa melalui jalur alternatif, karena jalannya sempit dan curam,” tutupnya.