Lawan Dolar Singapura, Rupiah Terlemah Sejak Akhir Agustus

REKANBOLA – Dolar Singapura kembali menguat melawan rupiah pada perdagangan hari ini. Bahkan dolar Singapura menduduki posisi terbaik sejak akhir Agustus.

Pada Selasa (17/9/2019) pukul 14:10 WIB, SG$ 1 setara dengan Rp 10.239,67. Rupiah melemah 0,35% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya

Data dari Singapura menunjukkan pada Agustus neraca perdagangan surplus SG$ 3,79 miliar yang merupakan capaian tertinggi sejak Mei 2019, dilansir Trading Economics. Peningkatan tersebut disokong oleh pertumbuhan ekspor dan impor non migas yang lebih baik dari ekspektasi pasar.

Ekspor non migas Singapura tercatat hanya turun 8,9% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih kecil dari konsensus pasar yang memproyeksi penurunan 12% YoY. Sedangkan impor tercatat tumbuh positif 6,7% YoY yang juga di atas konsensus pasar yang memproyeksi kenaikan tipis 2,5% secara tahunan, dilansir Trading Economics.

Berbeda dengan dolar Singapura, rupiah kini sedang mendapat sentimen negatif dari kondisi Timur Tengah yang belum stabil, dan harga minyak mentah yang diprediksi akan terus menguat.

Kenaikan harga minyak mentah bukan kabar bagus bagi Indonesia, beban impor akan membengkak. Data yang dirilis BPS Senin kemarin menunjukkan surplus neraca dagang, berkat surplus di sektor non-migas. Dari sektor migas masih mengalami defisit US$ 755,1 juta.

Defisit tersebut bisa membengkak jika harga minyak mentah terus terbang tinggi, dampaknya neraca dagang berpotensi mengalami defisit lagi, dan tentunya akan berdampak defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang selama ini menjadi momok bagi perekonomian Indonesia.

Penguatan dolar Singapura di pasar spot juga berdampak pada kurs jual beli di dalam negeri. Berikut kurs jual beli yang diambil dari situs resmi beberapa bank pada pukul 14:48 WIB:

Bank Kurs Beli Kurs Jual
BCA 10.230,36 10.250,60
BRI 10.172,66 10.311,01
Mandiri 10.210,00 10.265,00
BNI 10.272,00 10.214,00

Baca Juga:   KEIN Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi 5,27%