Mampu Bagi-bagi Kado Natal ke Anak-anak Seluruh Dunia, Seberapa Kaya Santa?

REKANBOLA – Perayaan Natal tentu identik salah satunya dengan tokoh Santa Claus. Dalam cerita, sosok Santa akan berkeliling dunia menggunakan kereta salju membagikan hadiah kepada seluruh anak di bumi. Tentunya hal ini membuat penasaran, sekaya apa Santa sampai bisa melakukan hal tersebut?

Menurut taksiran GOBankingRates, dilansir dari Yahoo! Finance, kekayaan Santa mencapai USD 51,6 miliar (Rp 750,9 triliun) setelah mengecek nilai-nilai aset yang dimiliki Santa, mulai dari rusa terbang hingga pabrik hadiah.

Sembilan rusa magis yang menarik kereta salju (sleigh) Santa Claus masing-masing bernilai USD 100.000 (Rp 1,45 miliar), sementara harga Rudolph si hidung merah lebih mahal USD 50.000 karena memiliki kemampuan ala GPS. Untuk kereta saljunya juga relatif mahal, yakni USD 65 juta (Rp 945 miliar).

Ini belum termasuk lahan tempat tinggal para rusa yang ditaksir mencapai USD 11 juta (Rp 160 miliar). Rumah Santa di Kutub Utara terbilang sederhana. Harganya hanya USD 250.000 (Rp 3,6 miliar).

Dalam urusan korporasi, Santa mempekerjakan 5.000 pegawai peri di kutub utara. Pekerjaan yang tersedia ada yang sebagai pembuat mainan, juru masak, pengurus rusa, atau mekanik. Valuasi mega complex bagi para peri mencapai USD 530,5 juta (Rp 7,7 triliun).

Aset paling mahal Santa Claus adalah toko mainan miliknya. Nilai toko mainan ini diperkirakan mencapai USD 50 miliar (Rp 727,6 triliun).

Cerita Awal Mula Kemunculan Santa Claus

Dari sejumlah sumber, cerita sinterklas memang muncul dari beberapa tradisi Natal di sejumlah daerah di Eropa kemudian Amerika. Rujukannya rata-rata sama, yakni kisah tentang Santo Nikolas pada abad ke-4. Santo dari Myra ini adalah inspirasi utama untuk figur orang Kristen tentang Sinterklas.

Baca Juga:   Skuat Jerman Dilanda Kekecewaan Usai Dijegal Meksiko

Nikolas terkenal untuk kebaikannya memberi hadiah kepada orang miskin. Di Eropa (lebih tepatnya di Belanda, Belgia, Austria dan Jerman) dia digambarkan sebagai uskup yang berjanggut dengan jubah resmi, hingga kemudian gambaran ini menjalar ke seluruh dunia dengan penambahan sejumlah atribut, seperti topi dan sebagainya.

Austin Cline, seorang pengamat agama, mengatakan Sinterklas justru merupakan simbol-simbol sekuler dalam Kristen yang memang tidak ada rujukannya Alkitab. Hal ini tidak mengherankan jika faktanya simbol Sinterklas lebih populer ketimbang misalnya, gambar bayi Yesus, dalam setiap perayaan Natal.

Wajah sekuler Natal yang dilambangkan dengan Sinterklas ini bahkan pernah mendapat tentangan dari orang Kristen Puritan di inggris pada 1647. Demi menghapus elemen-elemen yang tidak alkitabiah, Inggris yang ketika itu dikuasai oleh Parlemen Puritan bahkan pernah melarang perayaan Natal.

Mereka menganggap perayaan Natal hanyalah festival kepausan (popish) yang tidak punya pembenarannya dalam Alkitab. Akhirnya, kaum Puritan di Inggris menggantinya dengan satu hari puasa.

Akibat larangan perayaan Natal ini, kerusuhan meledak di sejumlah kota di Inggris. Bahkan, Canterbury dikuasai oleh massa pemrotes selama berminggu-minggu. Kerusuhan akhirnya reda dengan pencabutan larangan lewat Restorasi Raja Charles II pada 1660, kendati sejumlah pendeta tetap tidak menyetujuinya.

Sinterklas yang tidak ada rujukannya dalam Alkitab telah menjadi simbol-simbol dalam tradisi perayaan Natal di dunia, termasuk di Indonesia. Barangkali ini mirip dengan ketupat jika tradisi setiap Lebaran itu mendunia.