Mendag Akui Ada Aturan Ganjal Kinerja Ekspor

REKANBOLA – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita berkomentar atas defisit neraca perdagangan Indonesia terhadap China. Seperti diketahui, data BPS memang menunjukkan neraca perdagangan Indonesia dengan China mengalami defisit US$13,99 miliar pada periode Januari hingga September 2019.

Enggartiasto mengakui defisit disebabkan oleh kesalahan yang dilakukan pemerintah sendiri. Kementerian dan lembaga pemerintah masih belum bisa bersinergi dalam mempermudah aturan ekspor.

Salah satu contoh bisa dilihat dari penerapan Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK) oleh Kementerian Kehutanan. SVLK merupakan sistem untuk memastikan kayu yang digunakan untuk produk ekspor didapat secara legal.

“Persyaratan ekspor agak panjang ke kiri ke kanan. Bagaimana mereka mau ekspor. Habis saja waktu di dalam negeri. Ambil contoh, yang berulang kali Bapak Presiden sampaikan. Soal Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK), itu tidak dibutuhkan di negara yang tidak mensyaratkan itu, tapi kita mensyaratkan itu,” katanya, Kamis (17/10)..

Enggar meyakini kalau internal pemerintah sinergi bagus, ekspor Indonesia ke China bisa bagus sehingga defisit neraca dagang dengan mereka tidak separah sekarang. Menurut pengamatannya, China sudah mempermudah produk nonmigas Indonesia untuk masuk ke pasar mereka.

“Tiongkok, mereka mendorong, membuka, dan memberikan kemudahan bagi kita untuk ekspor. Tapi kita sampaikan betapa kesulitan kita hadapi,” kata Enggar.

Enggar mengatakan untuk mengatasi masalah tersebut saat ini pemerintah sedang melakukan perbaikan. Tapi, ia tidak menyebut perbaikan apa yang dilakukan.

Baca Juga:   Dongkrak Kualitas Tenaga Kerja RI, Pemerintah Pakai Jurus Ini