Menilik Penyebab Meroketnya Harga Tiket Pesawat

REKANBOLA – Industri maskapai di Indonesia dinilai mulai tidak efisien. Hal itu ditandai dengan meningkatnya harga tiket sejak Januari 2019 dan menjadi polemik hingga hari ini.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menilai adanya duopoli dalam industri penerbangan saat itu. Duopoli ituah yang menyebabkan harga tiket pesawat belakangan ini meningkat drastis.

Dia menjelaskan, industri penerbangan sejak 2009 dikuasai oleh Lion Air Group. Lion Air yang bergerak di bisnis Low-Cost Carrier (LCC) sudah mulai merajai sejak 2008 jauh meninggalkan Garuda Indonesia.

“Semenjak tahun tersebut, dominasi Lion Air semakin tidak terbantahkan. Tahun tersebut juga ditandai dengan merosotnya kinerja Batavia Air, Mandala, dan Merpati. Alhasil Lion Air dengan harga yang relatif lebih murah bisa merajai industri penerbangan tanah air,” terangnya dalam diskusi online, Minggu (3/3/2019).

Namun sejak Lion Air Group meluncurkan Batik Air di 2013, fokus Lion Air berubah untuk lebih mengembangkan Batik Air sebagai pesaing dari Garuda Indonesia. Hal yang sama juga dilakukan Garuda Indonesia yang fokus mengembangkan Citilink untuk menjadi pesaing utama Lion Air di LCC.

“Dilihat secara Group, Garuda Indonesia dan Lion Air bersaing ketat pada periode 2009-2015. Namun Lion Air Group tetap yang memimpin dengan pangsa pasar lebih dari 45% hingga pada tahun 2017, pangsa pasar Lion Air Group sudah mencapai 50 persen. Bahkan pada tahun 2018 bisa mencapai lebih tinggi. Sedangkan Garuda Indonesia mulai menurun semenjak 2015. Faktor perubahan manajemen disinyalir menjadi penyebab menurunnya pangsa pasar perusahaan BUMN ini,” tambahnya.

Huda menjelaskan, kecurigaannya terhadap praktik duopoli didasarkan pada tingkat concentration ratio di industri ini mencapai 83% pada 2017. Penguasaan pasar itu membuat kedua perusahaan teratas bebas untuk menentukan harga ataupun kuantitas dari penerbangan.

Baca Juga:   Gaji Ke-13 Diperkirakan Dongkrak Penjualan Ritel Juli

“Hal ini semakin diperparah dengan bergabungnya Sriwijaya Air Group ke dalam Garuda Indonesia Group yang semakin memperbesar tingkat konsentrasi pasar pada dua group penerbangan nasional tersebut. AirAsia tidak akan mampu menembus pangsa pasar mereka berdua,” tambahnya.

Huda mengaku tidak percaya alasan dari maskapai yang membuat harga tiket naik adalah harga avtur yang tinggi. Dia menjabarkan data bahwa harga avtur di Pertamina jauh lebih rendah dari harga avtur di Singapura ataupun di Malaysia.

“Bahkan harga avtur diakui Kementerian BUMN terus menurun sejak November tahun lalu. Hal ini senada dengan penurunan harga minyak dunia pada akhir tahun 2018 hingga awal tahun ini. Jadi Harga avtur yang memang mencapai 40-45% dari total biaya perusahaan, bukan menjadi penyebab mahalnya harga tiket pesawat,” tutupnya.