Mental Suporter Indonesia yang Barbar dan Terus Saja Barbar

REKANBOLA – Sepakbola Indonesia masih sangat jauh dari berkembang. Mental barbar terus menjadi barbar. Suporter Indonesia, entah apa sebab, begitu kejam terhadap sesamanya.

Indonesia dan Malaysia terakhir saling berhadapan di Stadion Gelora Bung Karno (SUGBK) pada level tim senior di final leg kedua Piala AFF 2010. Indonesia menang 2-1, namun gagal juara setelah di pertemuan pertama kalah 0-3.

Pertemuan itu membekas di kepala masing-masing pihak. Untuk Indonesia adalah luka dan untuk Malaysia kebahagiaan karena itu menjadi gelar pertamanya di Piala AFF.

Aksi saling ledek dari kedua kelompok tak terhindarkan. Terlebih terjadi sangat masif di media sosial.

Sembilan tahun berjalan. Kamis (5/9/2019), Stadion GBK kembali memerah untuk laga Timnas Indonesia senior. Skuat Garuda coba menjahit harapan untuk tampil di Piala Dunia 2022, setelah pada Kualifikasi Piala Dunia 2018 dicoret dari keikutsertaan akibat hukuman dari FIFA.

Malaysia menjadi lawan pertama Indonesia di Grup G. Ada gairah besar menuju pertandingan ini, yang dibalut oleh rivalitas tim, suporter, dan gengsi berbau politis kedua negara.

Saya turut meliput langsung pertandingan ini. Aura panas dari suporter Indonesia sudah sangat terasa saat duduk di tribune media.

Umpatan bernada rasis dan acungan jari tengah terus dialamatkan suporter Indonesia ke Ultras Malaya, yang posisinya tepat bersebelahan dengan tribune media. Mereka yang mengintimidasi berada tepat di atas tribune Malaysia dan Media.

Saya coba mendekat ke pembatas antara tribune Malaysia dan media untuk merekam suasana suporter tim tamu. Mereka masih sangat terlihat santai meski terus diintimidasi dari atas.

“Di sini keadaan kami memang sanggat tegang. Seharusnya tribune atas ditutup untuk jaga tamu. Di Bukit Jalil kami biasa tutup tribune atas untuk keselamatan tamu,” kata Fadli salah satu suporter Malaysia saat berbicara dengan saya dari sela-sela pembatas pagar.

Intimidasi ke Ultras Malaya berganti menjadi lemparan botol, yang tadinya sekadar umpatan bernada rasis dan acungan jari tengah. Mereka masih tak melawan balik. Berusaha tenang demi bisa selamat sepanjang pertandingan.

Baca Juga:   Salah Diyakini Akan Cocok dengan Madrid

“Atmosfer di sini sangat luar biasa. Bulu kuduk merinding dengar suara-suara suporter. Untuk yang belum pernah ke sini harus coba datang,” kata Khoriul dalam wawancaranya dengan detikSport saat babak kedua baru berjalan, yang pada posisi ini Indonesia unggul 2-1.

“Memang ada lemparan, tapi itu biasa. Tergantung kami mau ambil makna lemparan itu sebagai apa? Kami anggap itu cuma bagian provokasi dan kami tak boleh membalas, harus terus coba tenang,” sambungnya.

Obrolan itu menjadi awal perkenalan dengan Khoirul. Perawakannya seperti sudah berusia kepala empat. Dia di tribune dengan setelan topi, kaus hitam, jeans panjang hitam, dan kacamata.

Khoirul sudah biasa ke Indonesia cuma sekadar untuk tonton klub-klub sepakbola Indonesia. Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, Persib Bandung, PSS Sleman, dan Arema FC. Dia berusaha melihat lebih dekat kenapa suporter sepakbola di Indonesia sangat setia dengan klub.

Klub-klub di Malaysia tak banyak punya dukungan suporter di stadion, tapi stadion selalu penuh jika tim nasional main. Khoirul sendiri adalah pendukung dari klub Felda United.

Kericuhan pecah sekitar 10 menit setelah Malaysia menyamakan skor menjadi 2-2. Ultras Malaya dilempari botol dari atas tribune dan dari sisi Selatan. Lebih buruknya lagi, beberapa suporter Indonesia ada yang berlari mendekat ke tribune lawan. Beberapa Ultra Malaya coba melawan serangan suporter tuan rumah.

Smoke bomb hasil lemparan suporter Indonesia mendarat di tribune Malaysia. Tiga orang harus dilarikan ke rumah sakit akibat bom asap.

Pertandingan sempat dihentikan. Beberapa pemain Indonesia ada yang mendekat ke tribune suporter untuk menenangkan situasi. Perlahan laga berhasil dilanjutkan lagi.

Indonesia pada akhirnya kalah 2-3 lewat gol Malaysia di injury time. Di saat bersamaan Ultras Garuda langsung dievakuasi ke lorong stadion, tanpa sempat merayakan kemenangan di tribune.

Suasana memanas di depan pintu masuk VVIP tak lama setelah pertandingan tuntas. Suporter Indonesia melihat ada kumpulan Ultras Malaya di lorong stadion. Mereka memukul-mukul kaca dan terlihat buas saat melihat suporter Malaysia.

Pihak kepolisian membubarkan paksa suporter Indonesia. Tembakan gas air mata pun terpaksa dilepaskan untuk membubarkan suporter yang sudah makin tak terkendali karena melempar batu.

Baca Juga:   Demi Tinggalkan Inter, Kondogbia Ingin Rogoh Kocek Sendiri

Sekitar satu jam di depan pintu VVIP mulai kondusif. Dalam situasi ini, Saya kembali bertemu dengan Khoirul. Kami terlibat cerita panjang lebar baik terkait sepakbola dan juga di luar sepakbola.

Wajahnya masih terlihat santai. Khoirul ternyata datang ke Jakarta dengan empat orang teman, yang berbadan tambun. Salah satunya adalah orang yang saya lihat aktif menenangkan kelompok Ultras Malaya.

“Kami berangkat dari Malaysia ke sini berlima. Baru balik Sabtu karena mau belanja di store Persija dulu. Kamu tahu di mana tempatnya?” kata Khoirul.

Khoirul mengaku Persija salah satu tim dengan suporter besar di Indonesia yang barangnya belum dia punya. Saya menjelaskan beberapa lokasi Persija store dengan penunjuk google map.

Waktu menunjukkan jam 12 malam. Situasi terlihat sudah sangat steril dari suporter Indonesia. Khoirul kemudian meminta untuk dipesankan taksi online.

Taksi tak bisa masuk ke arena GBK. Terpaksa kami meminta supir untuk tunggu di depan gerbang panahan, yang lokasinya di jalan Asia-Afrika.

Dalam perjalanan mendekati taksi, Khoirul sempat bertanya di mana saya tinggal. Saya menyebut sebuah daerah, yang saya yakini dia tak tahu di mana lokasinya. “Tidak jauh dari Stadion Patriot,” kata saya memberi ancer-ancer.

Dia kemudian bertanya apakah saya pernah ke Malaysia atau tidak.

Saya bilang pertama kali ke Malaysia 2007. Saya bilang juga, bahkan dibesarkan orang tua dari ringgit Malaysia karena ayah nakhoda di perairan sana.

Tiba-tiba bantuan datang sebelum yang saya khawatirkan terjadi. Seseorang keluar dari mobil Livina berwarna hitam, yang sejak awal sudah parkir tepat di depan taksi pengangkut Khoirul dkk. Pria itu, yang ternyata polisi, mengacungkan pistol ke arah suporter Indonesia. Mereka langsung kabur.

Setelah tiba dekat patung panahan, empat orang teman Khoirul langsung masuk taksi. Khoirul belum masuk, dan menawarkan ke saya untuk saling berteman di Facebook. Saya sodorkan handphone dan memintanya mengetik akun miliknya.

Baca Juga:   Duel Lawan Brighton Bagaikan Sebuah Final Bagi Liverpool

Tiba-tiba suasana menjadi tak kondusif setelah ada empat orang suporter Indonesia yang berteriak-teriak Malaysia ke arah kami. Entah dari mana mereka datang dan bagaimana mereka bisa tahu.

Saya coba mendekat ke keempat suporter Indonesia itu. Saya jelaskan bahwa saya orang Indonesia dan lima orang yang itu adalah teman. Mereka tidak peduli dan makin kencang teriak-teriak sambil mengumpat Malaysia dengan bahasa Inggris.

Saya minta Khoirul untuk masuk taksi supaya bisa segera pergi. Tapi, supir tak mau menginjak gasnya. Dia takut mobil menjadi sasaran amukan suporter.

Ada satu petugas keamanan yang jaraknya kurang lebih cuma dua meter dari tempat kami berdiri. Saya coba minta bantuan, tapi dia bergeming.

Saya coba mendekat lagi ke suporter Indonesia itu, meminta mereka pergi. Jujur saja, saya sudah pasrah dan bersiap kena satu atau dua tinju. Bukannya sama sekali tanpa perhitungan, saya cukup yakin akan bisa meredam jika ada perkelahian. Bagaimanapun, saya juga tidak mau bertindak konyol yang merugikan diri sendiri kok.

Terima kasih untuk pak polisi yang jadi dewa penolong, dan kemudian bermurah hati mengantarkan Khoirul dan teman-temannya ke tempat penginapan.

Saya langsung meminta Khoirul dan teman-temannya keluar taksi dan pindah ke mobil milik pak polisi itu. Mobil tak lama melaju meninggalkan area Senayan. Saya harus kembali ke dalam, mengambil motor yang terparkir dan bergegas pulang.

Kejadian di depan panahan itu membuat saya sedikit paham kenapa beberapa tahun terakhir ada suporter di Indonesia yang tewas. Saya tak habis pikir kenapa suporter Indonesia menjadi begitu buas saat melihat pendukung lawan. Padahal mereka juga manusia. Entah ke mana hilangnya rasa iba, saat sang korban yang tersudutkan sudah sangat pasrah. Kekerasan adalah jalan mereka.

Tak lama setelah ricuh di GBK itu, PSSI dan pemain Timnas Indonesia bergantian minta suporter dewasa. Sebaliknya, suporter Indonesia menyalahkan PSSI dan Timnas Indonesia yang tak becus.

Tak ada yang berani menunjuk hidungnya sendiri!