Nazaruddin Direkomendasikan Jalani Asimilasi di Pondok Pesantren

Rekanbola.com – M Nazaruddin diusulkan menjalani asimilasi di pondok pesantren. Usulan ini diterima KPK dari surat rekomendasi yang dikirim Dirjen PAS.

“Informasi yang kita dapatkan, juga sudah dicantumkan lokasi asimilasi kerja sosial tersebut, ini berdasarkan TPP (Tim Pengamat Pemasyarakatan) Pusat, di sebuah ponpes di Bandung. Tentu kami pertimbangkan lebih lanjut dulu, surat-surat itu,” ujar Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (7/2/2018).

Menurut Febri, keputusan itu merupakan hasil pertimbangan TPP Pusat di bawah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM). Hasil sidang TPP pada 30 Januari 2018 itu memutuskan Nazaruddin sudah memenuhi syarat asimilasi dalam rangka pembebasan bersyarat.

“Kemudian disebutkan juga di surat tersebut bahwa ada tim di Kemenkum HAM, TPP Pusat di sana, sudah melakukan sidang dan hasil dari sidang tersebut secara administratif dan substantif, M Nazaruddin sudah memenuhi syarat untuk asimilasi dan pembebasan bersyarat tersebut,” kata Febri.

Surat tertanggal 5 Februari 2018 itu disampaikan ke KPK untuk meminta rekomendasi dari KPK. KPK akan berkoordinasi di internalnya untuk membahas rekomendasi macam apa yang akan disampaikan nantinya.

Febri menyebut hal yang menjadi pertimbangan KPK salah satunya soal masa penahanan yang sudah dijalani Nazaruddin dari total vonis kurungan penjara yang harus dijalaninya. Syaratnya, terpidana sudah menjalani dua pertiga masa pidana penjara.

“Yang kedua, tentu KPK tetap harus menghargai kontribusi pihak-pihak tertentu yang membongkar peran pihak-pihak lain sampai akhirnya beberapa kasus ditangani. Misalnya kasus Hambalang dan e-KTP,” tutur Febri.

Selain itu ada pula aspek relevan lain yang dikatakan Febri perlu menjadi pertimbangan KPK. Nazaruddin memang dipidana, salah satunya terkait korporasi yang dikelolanya saat itu, Grup Permai. KPK sendiri masih memproses beberapa kasus yang terkait dengan korporasi tersebut.

Baca Juga:   Lion Air Bantah Pesawat Rute Sorong-Manado Terbang Miring dan Coba Mendarat di Laut

“Karena kalau kita lihat dalam kasus Nazaruddin meskipun yang ditangani 2 perkara, tapi di 2 perkara tersebut sebenarnya ada puluhan proyek yang sudah diproses di sana. Baik dalam kasus tindak pidana korupsi atau tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang saat itu dilakukan oleh Grup Permai, sebuah perusahaan grup yang dikelola oleh Nazaruddin bersama-sama pihak tertentu saat itu,” papar Febri.

Nazaruddin dipidana kurungan selama 13 tahun untuk 2 kasus. Terkait kasus yang menjeratnya, Nazaruddin telah menjadi JC dan mendapat remisi.

Kasus pertama yang menjerat Nazaruddin adalah kasus suap wisma atlet, di mana Nazaruddin terbukti menerima suap Rp 4,6 miliar dari mantan Manajer Pemasaran PT Duta Graha Indah (DGI) M El Idris. Vonis 4 tahun 10 bulan dan denda Rp 200 juta dibebankan kepada Nazaruddin pada 20 April 2012. Namun vonis itu diperberat Mahkamah Agung (MA) menjadi 7 tahun dan denda Rp 300 juta.

Kemudian kasus kedua berkaitan dengan gratifikasi dan pencucian uang. Dia divonis 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar karena terbukti secara sah dan meyakinkan menerima gratifikasi dan melakukan pencucian uang dari PT DGI dan PT Nindya Karya untuk sejumlah proyek yang jumlahnya mencapai Rp 40,37 miliar.

 

Baca Juga :

 

Hasil gambar untuk MInion logo