NGOBROL EKONOMI : Chief Financial Officer BUMN

REKANBOLA – Karena profesi, saya berulangkali menjadi juri dalam kontestasi award untuk para eksekutif dan profesional dunia usaha. Di berbagai sektor. Dan bermacam kalangan.

Selalu saja banyak catatan. Mengenali para profesional itu kian mengokohkan keyakinan dan optimisme bahwa Indonesia memang menyimpan modal manusia yang luar biasa.

Menjanjikan, dan menumbuhkan banyak harapan. Keyakinan itu kian hari kian tebal. Begitu pula saat penjurian penghargaan untuk para pemimpin eksekutif keuangan BUMN.

Para Chief Executive Officer (CFO) perusahaan pelat merah alias Badan Usaha Milik Negara itu ternyata hebat-hebat. Tak seperti banyak sororan belakangan ini: katanya mau bangkrut. Katanya kesulitan keuangan. Namun, fakta yang ada justru sebaliknya. Banyak inovasi baru yang tidak biasa.

Para CFO yang umumnya dilabel dengan karakter pelit, bahkan medhit, itu tak terbukti. Medhit adalah bahasa Jawa prokem, yang berarti pelitnya setengah mati dan sepenuh hati.

Persepsi saya, di era banyak perubahan hari ini, para CFO BUMN justru menjadi enabler bisnis. Mengerahkan segala daya dan imajinasi untuk membiayai ekspansi.

Anda boleh tidak sependapat. Namun begitulah catatan yang saya dapat garisbawahi. Di tengah ekspansi gila-gilaan perusahaan BUMN, terutama yang memperoleh penugasan pemerintah membangun infrastruktur, ternyata banyak jalan keluar yang kreatif dan inovatif. Cara-cara baru. Model bisnis yang baru. Bukan cuma out of the box, melainkan without the box, bahkan extremely no box.

Hasilnya? Bukan sekadar proyek jalan, tetapi profitabilitas menanjak naik. Aset perusahaan melonjak. Dan yang penting lagi, bukan cuma naiknya keuntungan perusahaan, tetapi kontribusi untuk negeri semakin tinggi.

***

Setidaknya begitulah catatan saya dari penghargaan CFO BUMN Award 2019, yang baru pertama kali digelar oleh Bisnis Indonesia pada 26 Maret, awal pekan ini.

Ada 5 pemenang yang dipilih Dewan Juri, dan 4 penghargaan khusus yang ditetapkan oleh panel Dewan Redaksi. Bisnis Indonesia sebenarnya mengundang 15 kandidat CFO untuk presentasi dan dialog dengan Dewan Juri. Namun beberapa kandidat tidak bisa hadir, sehingga otomatis gugur dalam kandidasi.

Sebagai Ketua Dewan Juri adalah Pak Martiono Hadianto, mantan Dirjen Pembinaan BUMN, yang kini menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Pembinaan Manajemen. Anggota Dewan Juri ada Pak Sigit Pramono, Mantan Dirut BNI dan kini menjabat Chairman Indonesia Institute for Corporate Directorship. Dewan Juri lainnya adalah Pak Ito Warsito (mantan Dirut Bursa Efek Indonesia, kini Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia) dan Pak Mas Ahmad Daniri (Ketua Komite Nasional Kebijakan Governance).

Para kandidat CFO terbaik yang diundang presentasi itu diseleksi awal atas dasar kinerja keuangan BUMN. Kriteria seleksi dan penjurian ditentukan oleh Tim Riset Bisnis Indonesia.

Sebagai grup media bisnis dan ekonomi, Bisnis Indonesia memang memiliki divisi khusus riset dan data. Selain aktivitas kajian dan riset, divisi ini setiap tahun banyak menangani penjurian untuk bermacam awarding, terutama dalam penetapan metodologi dan kriteria seleksi.

Baca Juga:   Dukung Disabilitas, Grab Gandeng Rexona Luncurkan Armada Terbaru

Khusus untuk CFO BUMN ini, ada 4 kategori CFO Terbaik yang dipilih, yakni Best CFO in Sustainable Growth, Best CFO in Compliance & Governance, Best CFO in Corporate Restructuring, dan Best CFO in Transforming Finance. Dewan Juri lalu memutuskan untuk menetapkan satu lagi CFO terbaik dari yang terbaik, yakni The Best Overall CFO.

Lalu untuk penghargaan khusus, Panel Dewan Redaksi Bisnis Indonesia memilih 4 lagi CFO BUMN, dengan kategori The Most Innovative CFO, The Most Transformative CFO, The Most Strategic CFO, The Rising Star CFO.

Mereka ini dipilih setelah melakukan presentasi dan diskusi dengan Panel Redaksi. Rujukan penjurian oleh Dewan Juri maupun Panel Redaksi adalah tema “Komitmen Membangun Negeri”. Ini untuk mengapresiasi para CFO BUMN yang mampu berperan signifikan dalam melakukan transformasi sekaligus berkontribusi dalam pembangunan Indonesia.

***

Tanpa bermaksud mengulang, izinkan saya menuliskan lagi para CFO yang luar biasa tersebut. Mereka adalah Direktur Keuangan Bank BRI Haru Koesmahargyo (Best CFO in Sustainable Growth), Direktur Keuangan PT Telkom Harry M. Zen (Best CFO in Compliance & Governance), Direktur Keuangan PT Pupuk Indonesia Indarto Pamoengkas (Best CFO in Corporate Restructuring), dan Direktur Keuangan PT Kereta Api Indonesia Didiek Hartantyo (Best CFO in Transforming Finance).

Sedangkan kategori terbaik dari yang terbaik atau Best Overall CFO jatuh ke tangan Donny Arsal, Direktur Keuangan PT Jasa Marga. Donny Arsal terpilih dengan skor tertinggi dari Dewan Juri, terutama karena terobosan strategi keuangan yang inovatif dan menjadi model baru dalam pendanaan proyek jalan tol.

Jasa Marga sebagai pengembang dan operator jalan tol tersebut berhasil menggenjot investasi jalan tol baru secara masif. Dengan tambahan sekitar 200 km per tahun, pembangunan jalan tol dapat dilakukan sekaligus tetap menjaga kondisi keuangan yang tetap sehat, profitabilitas meningkat dan cashflow tetap tumbuh positif.

Selain itu, berbagai terobosan dalam operasional jalan tol dengan digitalisasi telah mengurangi waktu transaksi pembayaran, mengurangi antrian kendaraan dan meningkatkan efisiensi secara signifikan.

Haru Koesmahargyo terpilih sebagai The Best CFO in Sustainable Growth, setelah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mampu menjaga kinerja perusahaan dalam tren yang menguntungkan secara berkesinambungan.

Pada tahun 2018, BRI mampu membukukan laba Rp32 triliun, diiringi dengan peningkatan kompetensi bisnis pada segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang semakin kokoh. Selain itu, BRI juga dinilai mampu menyediakan solusi terintegrasi.

Harry M. Zen terpilih sebagai Best CFO in Compliance & Governance karena PT Telkom Indonesia Tbk dinilai mampu mengelola keuangan secara konsisten dan efektif, selain adaptif terhadap perubahan lingkungan bisnis di tengah persaingan yang ketat dalam industri telekomunikasi.

Telkom juga menggenjot pertumbuhan lini bisnis baru yang dapat memperkuat cashflow operasional, yaitu fixed broadband dan enterprises. Bisnis fixed broadband pada tahun lalu bahkan mengalami pertumbuhan sangat pesat, lebih dari 60%.

Baca Juga:   Bikin Sepeda Kayu, Dua Pemuda Ini Raup Omzet Rp 200 Juta/Bulan

Indarto Pamoengkas terpilih sebagai Best CFO in Corporate Restructuring dengan pertimbangan PT. Pupuk Indonesia (Persero) mampu melakukan efisiensi operasional produksi dan distribusi. Penyelesaian proyek-proyek pabrik berteknologi tinggi yang mendorong efisiensi bahan baku menjadi salah satu langkah nyata.

Selain itu, proses transformasi menjadi perusahaan agrochemical dan petrochemical terbesar di Asia juga menjadi pertimbangan tersendiri.
CFO dinilai berperan dalam menjaga keseimbangan komersial dan penugasan pemerintah. Juga dalam mengelola risiko bisnis dan operasional secara efektif dengan berbagai langkah restrukturisasi dan sinergi.

Sedangkan Didiek Hartantyo, yang terpilih sebagai Best CFO in Transforming Finance, dinilai mampu berperan penting dalam pengambilan keputusan investasi untuk terus menambah kapasitas PT Kereta Api Indonesia dalam meningkatkan pelayanan kepada publik.

Melalui investasi teknologi informasi, perbaikan terus menerus sistem ticketing dan aplikasi online, telah meningkatkan kinerja perusahaan secara signifikan. Selain profitabilitas yang terus membaik, kualitas pelayanan kepada 425 juta penumpang setiap tahun terus meningkat.

Kinerja yang menonjol juga ditunjukkan oleh sejumlah CFO BUMN yang memperoleh penghargaan khusus dari Dewan Redaksi Bisnis Indonesia.

Mereka adalah Anis Anjayani, Direktur Keuangan PT Hutama Karya (Persero), sebagai The Most Innovative CFO; Mohamad Nur Sodiq, Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia I (Persero), sebagai The Most Transformative CFO; Mohammad Syafii, Direktur Keuangan PT Wijaya Karya Beton Tbk, sebagai The Most Strategic CFO; dan Tri Andayani, Direktur Keuangan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero), sebagai The Rising Star CFO.

Anis Anjani terpilih sebagai CFO Inovatif karena di bawah kepemimpinannya, Hutama Karya terus berinovasi secara finansial untuk menopang kiprah sebagai pengembang infrastruktur dan operator jalan tol, khususnya Trans-Sumatra.

Dampaknya, ke depan perekonomian regional dapat terus tumbuh sekaligus mengurangi biaya logistik dan mendorong pertumbuhan industri di dalam negeri.

Muhammad Nur Shodiq terpilih sebagai CFO Transformatif karena dinilai mampu membuat transformasi dalam proses bisnis pada tahap front-end, back-end dan lini penunjang bisnis yang sekaligus meningkatkan kinerja perseroan.

Sebagai BUMN yang bergerak di bidang jasa kepelabuhanan, kepemimpinan CFO ini dapat mendorong peningkatan kecepatan layanan, pengendalian biaya, penambahan investasi alat, digitalisasi dan otomasi.

Selanjutnya, Mohammad Syafii dipilih sebagai Strategic CFO karena dinilai mampu menopang pengembangan strategi tepat dalam pengelolaan keuangan Wika Beton sehingga mampu mengantisipasi berbagai tantangan bisnis.

Upaya peningkatan kualitas dengan standar yang tinggi telah mendorong kepercayaan yang berdampak signifikan terhadap perolehan kontrak baru Wika Beton. Sebagai dampaknya, pendapatan perusahaan ikut tumbuh dengan biaya terkendali, sehingga laba perusahaan berada dalam tren meningkat.

Sedangkan Tri Andayani terpilih sebagai Rising Star CFO karena dinilai mampu mengedepankan berbagai langkah perubahan yang secara nyata dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Jiwa marketing yang mendarah daging dalam diri Anda, panggilan Tri Andayani, mengubah pendekatan baru dalam pengelolaan anggaran perseroan.

Selain dukungan anggaran untuk pemasaran, upaya monetisasi aset juga gencar dilakukan, didukung digitalisasi sistem untuk mendukung berbagai inovasi dari sisi layanan dan safety yang tidak sekadar memanfaatkan dana PSO pemerintah.

Baca Juga:   Tak Laku Tahun Ini, Pemerintah Lelang Tiga Blok di 2019

***

Sukses para CFO BUMN bertransformasi dalam mengelola keuangan patut diacungi jempol. Persepsi bahwa BUMN mengalami kesulitan finansial akibat penugasan pemerintah untuk menggenjot infrastruktur, memeratakan kegiatan ekonomi, dan menjaga stabilitas harga, rupanya tidak terbukti.

Justru yang terjadi, berbagai penugasan tersebut menempatkan posisi manajemen BUMN pada pilihan-pilihan terbatas dan tidak mudah, yang pada akhirnya memacu adrenalin untuk keluar dari rutinitas.

“Jebakan kenyamanan” yang selama ini tersemat kepada BUMN terpatahkan, terbukti dengan kinerja kolegial yang terus menanjak. Manajemen BUMN, bahkan di luar sektor perbankan, seolah terbangun untuk giat ekspansi sambil menjaga kinerjanya agar tidak kedodoran.

Itu pula yang diamini Fajar Harry Sampurno, Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, saat mewakili Menteri BUMN Rini Soemarno memberikan sambutan dalam penganugerahan CFO BUMN Award 2019, Selasa (26/3).

Selama tiga tahun pertama, Kementerian BUMN sibuk membenahi kinerja keuangan perusahaan pelat merah itu.Tugas membukukan keuntungan BUMN telah tercapai. Ini dapat dilihat dari performa keuangannya.

Pada 2018, total pendapatan BUMN mencapai Rp2.200 triliun atau setara 15% dari produk domestik bruto (PDB). Laba BUMN juga terus meningkat dari Rp155 triliun pada 2015 menjadi Rp188 triliun pada tahun lalu. Laba BUMN pada 2019 ditargetkan naik menjadi Rp200 triliun.

Secara grup termasuk anak usaha BUMN, target labanya tahun ini diharapkan mencapai Rp225 triliun. Tentu, pencapaian target itu butuh inovasi berkelanjutan dari manajemen BUMN.

“Setelah itu tugas BUMN apa? Berkomitmen membangun negeri,” ujar Harry.

Saya setuju. Apalagi sudah terbukti, selama 4 tahun terakhir, kiprah BUMN dalam membangun Indonesia semakin menonjol. Termasuk dalam memeratakan akses ekonomi, mengendalikan harga energi, mempercepat pembangunan infrastruktur dalam skala masif, serta dalam menopang pembangunan pedesaan dan pelaku usaha mikro bahkan supermikro.

Saya bahkan punya kesimpulan lain setelah berdialog dengan para CFO BUMN dalam proses seleksi penghargaan khusus bersama panel redaksi, terutama dengan BUMN yang bergerak di sektor infrastruktur.

Bagi saya, para CFO itu pada akhirnya terpaksa kreatif dan inovatif karena dibenturkan oleh keadaan. Setelah mendapatkan penugasan massal dari pemerintah, dan dihadapkan pada sumber-sumber finansial yang sangat terbatas.

Mereka, manajemen BUMN, menjadi jauh lebih “Kreatif dan inovatif karena kepepet”. Begitu kira-kira.

Hasilnya, BUMN bukan lagi menjadi lazy company karena terbuai zona nyaman. Penugasan massive dari pemerintah membuat manajemen BUMN, termasuk para CFO, berfikir keras mencari jalan keluar yang tidak biasa, belum pernah dilakukan sebelumnya, dan kadang ngeri-ngeri sedap.

Nyatanya, mereka berhasil. Ternyata, mereka bisa. Karena komitmen mencari cara baru, jalan keluar baru, terobosan baru. Dan tak kalah penting, bangkitnya komitmen membangun Indonesia yang lebih maju.

Nah, bagaimana menurut Anda? (*)