Pamor Honda BR-V Luntur, Transjakarta Pakai Bus China Lagi

REKANBOLA – Sudah meluncur empat tahun lalu, Honda hingga saat ini belum juga memoles BR-V. Akibatnya penjualan BR-V terus merosot dari tahun ke tahunnya. Honda disebut-sebut tengah menyiapkan BR-V versi baru dan merahasiakan kapal crossover itu meluncur. Transjakarta kembali menggunakan bus asal China sebagai armadanya. Transjakarta tak kapok kembali menggunakan bus asal China walaupun sempat mengalami beberapa masalah. Simak selengkapnya dalam berita terpopuler yang sudah dirangkum Rekanbola.com.

1. Apa Kabar BR-V, Honda?

Honda BR-V makin kehilangan panggung di tengah persaingan mobil keluarga yang gagah, terlebih setelah digempur Toyota Rush dan Daihatsu Terios generasi terbaru. Bila melihat data penjualannya tahun lalu secara wholesales, mobil hanya mampu terjual 9.143 unit.

Lalu langkah apa yang akan diambil Honda Prospect Motor (HPM)? Jonfis Fandy, Marketing and Aftersales Service Director HPM menyatakan tak akan membiarkan Honda BR-V makin tersingkir. Namun tak dapat dipastikan kapan model terbarunya akan diluncurkan.

“Iya sekarang banyak model baru yang keluar, dan kita memang tak bisa pungkiri kalau sudah lama, 4-5 tahun, akan ada penurunan penjualan,” ujar Jonfis di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/3/2019).

“Kalau diperbaharui sudah pasti, tetapi belum bisa saya informasikan. Nanti pada waktunya akan kita berikan kabar,” jelasnya.

Berdasarkan data penjualan yang dirilis HPM untuk Februari 2019, Honda tidak mengumumkan berapa perolehan penjualan low sport utility vehicle (LSUV)-nya itu di dua bulan pertama 2019.

Namun menurut Jonfis, tren secara penjualan memang terkadang naik dan turun. Belum lagi menyesuaikan permintaan pasar dan juga kondisi di pabrik.

“Informasi selanjutnya nanti dilihat saja, yang pasti kita sudah pasti akan memperbaharui tampilan BR-V, itu di IIMS atau bukan, ditunggu saja,” tegas Jonfis.

2. Pamor BR-V Kian Luntur dalam 4 Tahun

Dikenalkan sejak tahun 2015 pamor Honda BR-V terus menurun dari tahun ke tahunnya. BR-V menjalani debut perdana sebagai mobil konsep pada gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2015. Kemudian mobil yang disebut-sebut SUV-nya Mobilio itu baru ditawarkan pada 2016.

Baca Juga:   Komunitas Kecewa dengan Model Avanza Baru, Ini Alasannya

Dalam debut perdananya, Honda BR-V mendapat respons yang positif dari masyarakat Indonesia. Ribuan unit BR-V terpesan padahal Honda belum merilis harga resminya. Tercantum dalam distribusi wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) pada tahun pertamanya Honda bisa mendistribusikan 38.666 unit BR-V.

Bahkan angka distribusi BR-V masih lebih tinggi dari kompetitor utamanya duet Rush-Terios yang hanya tercatat masing-masing 24.371 unit dan 14.248 unit. BR-V juga harus bersaing dengan saudara sendiri yakni HR-V.

Tahun 2016 Honda BR-V tercatat mulai mengalami penurunan. Masih dalam data yang sama, distribusi BR-V tahun 2017 terdistribusi sebanyak 21.932 unit. Memasuki tahun ketiga penjualan BR-V terus merosot.

Honda bahkan tak bisa mengirimkan BR-V melebihi 10 ribu unit dalam satu tahun. Hanya 9.140 unit BR-V terdistribusi pada tahun itu. Kemudian memasuki tahun 2019, BR-V penjualannya kembali turun. Honda pun tak memungkiri hal tersebut.

Januari-Februari 2019 hanya 155 unit BR-V yang dikirimkan ke diler-diler Honda seluruh Indonesia. BR-V sendiri memang belum memiliki model baru sejak pertama kali diluncurkan empat tahun lalu. Honda hanya menambah beberapa komponen atau menghadirkan edisi khusus agar BR-V kembali menarik.

Menanggapi hal tersebut Honda juga menyebut sudah menyiapkan BR-V versi baru supaya penjualannya kembali bergairah.

“Informasi selanjutnya nanti dilihat saja, yang pasti kita sudah pasti akan memperbaharui tampilan BR-V, itu di IIMS atau bukan, ditunggu saja,” tutur Direktur Pemasaran dan Layanan Purnajual PT Honda Prospect Motor Jonfis Fandy.

3. Transjakarta Nggak Kapok Pakai Bus China

PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) baru saja meresmikan kerjasama dengan dua perusahaan bus listrik untuk menguji produknya di rute Bus Transjakarta.

Merek pertama adalah produk lokal bernama MAB (Mobil Anak Bangsa) yang dimiliki mantan Panglima TNI, Moeldoko. Sedang yang kedua adalah BYD, merek bus listrik asal China.

Baca Juga:   Ini Nih yang Bikin Mobil 7-Seater Laris di Indonesia

Bicara merek China, ini bukan kali pertamanya Transjakarta melakukan kerjasama. Sebelumnya perusahaan pelat merah tersebut pernah kerja sama dengan bus China bermesin konvensional, bermerek Zhongtong.

Namun sayangnya, kerjasama itu bisa dikatakan gagal seiring banyaknya kasus bus Zhongtong Transjakarta (Tj) yang terbakar di periode 2015 dan 2016. Akhirnya, bus Zhongtong pun lama-lama tidak digunakan lagi sebagai armada Tj.

Lantas, apakah tidak ada kekhawatiran pihak Transjakarta dalam menjalin kembali dengan merek bus asal China?

“Kekhawatiran brand apapun bisa saja ada. Tapi untuk ini (BYD) saya melihatnya berbeda,” terang Direktur Utama Transjakarta Agung Wicaksono, kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Salah satu alasan yang membuat Transjakarta yakin dengan BYD adalah karena perusahaan ini sudah dipercaya di negara asalnya, dan sudah dipercaya di puluhan negara lainnya.

“Ini sudah ada di 50 negara. Dan sudah ada 50 ribu (unit). Bus ini juga sudah banyak beredar di kota Shenzhen, dengan 16.000 unit,” katanya lagi.

Ditambahkan Agung, Transjakarta bersama pemerintah tidak lagi memandang brand karena asalnya. Melainkan karena kualitas dan harga produk yang kompetitif.

“Kalau mau bicara kegagalan, Zhongtong pernah terbakar, Hino Jepang pernah juga kebakar. Jadi terbakar bisa terjadi di brand apa pun. Yang terjadi bukan isu negaranya. Tapi soal bagaimana secara pabrikan juga menyiapkan diri,” pungkasnya