Pelaku Pemerkosaan Staf BPJS Ketenaga Kerjaan Kini Resmi Mengundurkan Diri

Korban mengaku, malah di PHK

Rekanbola – Beberapa saat lalu mencuat kabar pengakuan seorang staf Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan yang mengatakan bahwa dirinya menjadi korban pelecehan seksual atasannya. Menurut pengakuannya ia telah dilecehkan secara seksual selama dua tahun terakhir.

Korban yang juga masih berstatuskan mahasiswi di salah satu universitas swasta memberikan pengakuan pada konferensi pers yang digelarnya. Dalam pengakuannya, korban mengatakan akibat dari perlakuan yang diperolehnya tersebut membuat ia kehilangan kepercayaan diri. Bahkan sempat hampir bunuh diri sampai ada seorang temannya yang menguatkannya sehingga keinginan bunuh diri tersebut sirna.

Perlakuan bejat pimpinannya menurut penuturannya dilakukan di dalam kantor maupun saat tugas di luar dinas. Di kantor ia sering dipaksa agar mau dicium oleh pimpinannya, bagian-bagian tubuhnya yang sensitif kerap dipegang-pegang dan tidak selayaknya apa yang dilakukan pimpinan pada bawahannya.

Korban sudah empat kali diperkosa, ia mengaku takut untuk memberikan perlawan. Ia akhirnya melaporkan perlakuan bejat pimpinannya kepada Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan. Namun apa yang didapatnya malah membuat keadan semakin sulit.

Si pelaku dibela, dan menurut hasil rapat Dewan Pengawas 4 Desember lalu memutuskan agar si korban di berhentikan atau di PHK pada akhir Desember 2018. Kasus ini banyak menyita perhatian, khususnya para aktivis perempuan yang geram hingga membuat petisi agar pimpinan pelaku pelecehan seksual tersebut segera diberhentikan.

Anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan yang disebut sebagai pelaku oleh si korban bernama Syafri Adnan Baharuddin. Beberapa saat lalu Syafri resmi mengundurkan diri dari jabatannya di dalam konferensi pers yang ia adakan di Hotel Hermitage hari Minggu (30/12/2018). Namun Syafri mengatakan, mundurnya ia dari jabatannya bukan berarti mengakui tuduhan yang diarahkan kepadanya, tapi agar lebih fokus dalam menempuh jalur hukum.

Baca Juga:   Kumpulan Foto Yang Diambil Pada Waktu Yang Tepat, Epic!

“Agar saya dapat fokus dalam rangka menegakkan keadilan melalui jalur hukum. Saat ini juga surat kepada Presiden RI sedang diupayakan sampai. Kepada Ibu Menteri Keuangan, Bapak Menteri Tenaga Kerja, kepada Ketua Dewan Jaminan Nasional, kepada Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, kepada Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan,” jelas Syafri.(detik.com)

Sederet riwayat pendidikan Syafri Adnan Baharuddin yang mentereng bukanlah jaminan moralnya juga “terakreditasi”. Kekuasaan dan jabatan sering dimanfaatkan untuk mengambil untung dari kedudukan dibawahnya. More power more responsibility, makin besar kekuasaanmu makin susah untuk terus menjaga integritas.

Semoga kasus ini berbuah hasil baik bagi korban, hukum Indonesia harus ditegakan sekencang-kencangnya. Siapapun orangnya, jika melanggar harusnya diganjar.