Prediksi Google Soal Masa Depan Video Game

REKANBOLA – Google mencoba mengubah industri game di dunia dengan memamerkan Stadia, platform cloud gaming anyar buatannya. Platform ini dijanjikan akan mengubah industri game secara keseluruhan, yaitu bagaimana game itu dijual, didistribusikan, dan bahkan proses pembuatannya.

Google pun memprediksikan kalau masa depan game ada di cloud. Memang, masih banyak hal yang belum diungkap Google mengenai Stadia. Utamanya adalah bagaimana model bisnis yang akan mereka terapkan di platform tersebut.

Model bisnis Stadia ini, menurut Bos divisi Stadia Phil Harrison, baru akan diungkap setidaknya pada musim panas 2019 ini. Yaitu bagaimana mereka menjual layanan ini, atau mungkin bagaimana developer bisa memperoleh uang dari layanan ini.

“Saya pikir ini adalah perubahan fundamental dalam industri game. Selama 40 tahun terakhir kita sudah mempaketkan media dan game dari tahu 1970an sampai sekarang, game adalah perangkat-sentris,” ujar Harrison dalam wawancaranya dengan The Verge.

Maksud dari pernyataan Harrison itu adalah industri game yang ada saat ini masih menerapkan cara yang sama sejak tahun 1970an. Yaitu berfokus pada perangkat, baik itu konsol, PC, dan lainnya.

Hal ini tentu punya banyak keterbatasan. Seperti hanya bisa memainkan game tertentu pada satu konsol, atau performa game itu terbatas pada kemampuan perangkat yang dipakai bermain, demikian dikutip Rekanbola dari The Verge,

“Game berbentuk disk, atau cartridge, atau kaset, atau diunduh, atau mereka dibuat secara spesifik untuk memanfaatkan atau terbatas pada limitasi dari perangkat tertentu,” ujarnya.

Hal itulah yang coba diubah oleh Google, dengan membuat satu platform di mana developer game bisa mempublikasikan gamenya, dan game itu kemudian bisa dimainkan di berbagai platform yang didukung oleh Stadia.

Baca Juga:   Varian Baru Xiaomi Mi 8 Lite Muncul Lewat Bocoran Gambar

“Kami mengubah hal itu dengan memberikan data center ke developer game dan sepenuhnya tak mempedulikan perangkat. Jadi, tidak, kami tidak membutuhkan konsol dan itu adalah intinya,” ujar Harrison.

Untuk itulah dalam keynotenya di ajang Game Developer Conference (GDC) 2019 Google berfokus pada teknologi yang dipakai Stadia di servernya. Yaitu memastikan servernya itu mempunyai performa yang cukup tinggi agar bisa mencapai resolusi dan frame rate yang optimal.

Meski begitu, Google ternyata lebih tertarik mengenai fitur yang membuat Stadia bisa terintegrasi dengan YouTube dan teknologi live streaming. Fitur ini dinilai bisa membuka jenis game baru lengkap dengan pengalaman bermain secara multiplayer.

“Seharusnya tak melulu soal teknologi. Teknologi memang menjadi tema penting dalam presentasi hari ini. Namun saya berharap kita bisa melanjutkan berbicara soal Stadia di masa yang akan datang, di mana teknologi tak lagi menjadi fokus utama dan fokus utamanya berpindah menjadi cara baru untuk bermain,” ujarnya.