Pria Caper dan Wanita Baper, Mungkinkah Jadi Pasangan Super?

NEWS

Rekanbola.com-Setiap orang berpotensi memiliki dua sifat ini: cari perhatian atau caper dan bawa perasaan alias baper. Kebanyakan, yang sering caper di depan umum adalah cowok. Sementara, yang gampang mellow atau terbawa perasaan adalah cewek.

Posisinya sekarang adalah mereka berpacaran. Kunci langgengnya sebuah hubungan adalah ketika satu sama lain saling menjaga perasaan. Pada umumnya, cowok masih suka melirik cewek-cewek cantik yang melintas di hadapannya, meski ia sedang menggandeng pasangannya. Di lain sisi, cewek kerap memerhatikan gerak-gerik cowoknya yang masih hobi tebar pesona. Ujung-ujungnya, si cewek mendadak baper.

BACA JUGA :

Salahkah punya sifat gampang galau atau baper? Tergantung penempatannya. Baper bisa menyakiti perasaan dan suasana hati tidak nyaman. Namun, hal itu tak sepenuhnya salah selama si cewek bisa menempatkan baper pada tempatnya. Bukankah wajar cewek jadi cemburu melihat cowoknya terpesona sama orang lain? Ada baiknya cowok juga harus peka saat perilakunya bikin pacarnya uring-uringan.

Dari hasil pengamatan psikolog klinis, Astrid Wen, M. Psi, masih terbuka kemungkinan pasangan ini bisa melangkah ke jenjang lebih serius.

“Kalau ditanya mungkin, ya mungkin. Selama ada rasa atau ketertarikan, cowok caper dan cewek bapertetap bisa bersatu. Tapi untuk berapa lama, kita tidak pernah tahu,” buka pendiri Pion Clinicion itu saat dihubungi Rekanbola.com, Sabtu (13/1/2018).

Butuh kematangan emosional

Pada dasarnya cewek baper itu memiliki level sayang tingkat tinggi kepada pasangannya. Kembali lagi bagaimana ia bisa mengontrol derajat kebaperannya. Demikian juga si cowok caper yang mungkin dia sendiri tak ingin membuat perasaan pasangannya jadi tersinggung.

“Keduanya sama-sama memiliki kebutuhan tinggi untuk diperhatikan. Keduanya sama-sama menuntut energi yang besar dan kematangan emosi dari pasangannya,” lontar Astrid.

Untuk menyiasati kelangsungan hubungan mereka, Astrid menyarankan agar pasangan ini terus belajar dalam mematangkan emosinya.

“Jika keduanya belum memiliki energi yang besar dan kematangan emosi untuk satu sama lain, akan banyak miskomunikasi, drama, dan kelelahan emosi yang muncul dalam hubungan mereka. Kalau dibiarkan berlarut, besar kemungkinan hubungan mereka tidak bertahan lama atau sering putus nyambung,” beber psikolog yang menamatkan studi S2 nya di Universitas Indonesia ini.

Bagaimana si baper harus menyikapi si caper?

Bagaimana si caper harus menyikapi si baper?

BERITA MENARIK LAINNYA :

Facebook Comments