Punya Budget Terbatas, Pilih LCGC atau Low MPV Bekas?

REKANBOLA – Mobil bisa jadi pilihan bagi keluarga muda yang ingin memiliki kendaraan lebih private. Jika menengok ke pasar, pilihan jenis dan mereknya pun cukup banyak. Namun jika Anda termasuk karyawan dengan penghasilan Rp 4 jutaan, mobil LCGC yang murah mungkin bisa jadi pilihan yang rasional.

Tapi jika masih ragu dengan kualitas mobil murah ala LCGC, pilihan lainnya adalah mobil low MPV bekas. Pertanyaannya lebih worth it mana, antara mobil LCGC baru dengan mobil low MPV bekas untuk konsumen dengan budget terbatas?

Sandi Kurnia, membeli low MPV bekas dengan tahun muda bisa jadi pilihan menarik bagi konsumen ketimbang membeli mobil LCGC baru.

“Terlepas dari profesi saya di showroom mobil bekas. Saya coba berbicara objektif saja. Kalau bicara LCGC itu kan mobil yang disubsidi pemerintah ya. Berarti ada komponen-komponen yang secara persentase tingkat ketahanannya ada yang dikurangi dibanding yang non-LCGC,” kata Sandi ditemui REKANBOLA, di Bekasi, Rabu (20/3/2019).

Maka itu, Sandi pun lebih menyarankan untuk membeli low MPV seken dengan kualitas yang lebih bagus. “Taruhlah sekarang Sigra atau Calya matic 2019 baru itu harganya kurang lebih Rp 150 jutaan, lebih oke cari low MPV seken yang harganya juga segitu,” katanya lagi.

Sebagai contoh, Sandi menyebut model Suzuki Ertiga GX matic tahun 2014 atau 2015 untuk bahan perbandingan. “Harganya kurang lebih sama, Rp 150 jutaan. Tapi dari segi ketahanan, akselerasi, dan kenyamanan, tentu lebih baik dari mobil LCGC,” katanya lagi.

“Jadi saran sih lebih baik low MPV seken. Tapi jangan asal beli. Kondisi komponennya tetap harus diperhatikan. Dan incar tahun muda. Kalau ngambil unit 2015 pun masih oke kok, belum terlalu tua. Taruhlah dapat kilometer di angka 40 ribu. Itu masih enak banget dipakai,” lanjutnya.

Baca Juga:   BMW Rilis X3 Baru, Tampilannya Lebih Gahar

Selain mendapat mobil dengan kualitas mobil yang lebih baik, Sandi juga menyoroti perilaku konsumen Indonesia yang suka gonta-ganti mobil, apalagi jika muncul produk mobil baru.

“Harus perhatikan juga aftersales-nya. Itu mobil mau dipakai berapa tahun sih. Karena kan kebanyakan masyarakat Indonesia juga kan cepat bosan ya. Kalau beli mobil baru, LCGC terus dijual lagi, harga pasti anjlok. Dibanding low MPV seken, kita beli kita jual lagi harganya nggak bakal anjlok,” terang Sandi.

“Mobil baru itu deviasinya cukup besar sekitar 40 sampai 45 persen per tahun. Kalau mobil seken 15 persen, karena sudah dipotong sama pas dia dijual dari tangan pertama,” pungkasnya.