Rumah Tunggu Kelahiran, Upaya Ponorogo Turunkan Angka Kematian Bumil

REKANBOLA – Pemkab Ponorogo melalui Dinkes mengatur strategi guna menurunkan angka kematian ibu hamil (bumil). Salah satu caranya dengan mengadakan Rumah Tunggu Kelahiran (RTK).

Kadinkes Ponorogo Rahayu Kusdarini menjelaskan pengadaan RTK memang dimaksudkan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan bumil dan janinnya.

“Di RTK, bumil diberikan pendampingan, pelayanan kesehatan serta kebutuhan lainnya hingga persalinan, tapi layanan ini khusus untuk bumil yang persalinannya memerlukan pertolongan spesifik,” tutur Irin kepada Rekanbolacom,

Para bumil tersebut, lanjut Irin, diharuskan tinggal di RTK 2-3 minggu sebelum Hari Perkiraan Lahir (HPL). Hal ini untuk mengantisipasi jika bumil membutuhkan perawatan ke Rumah Sakit dengan akses jalan yang gampang.

“Saat ini RTK yang sudah aktif ada di Badegan, rencana ke depan kami nyewa tempat di dekat RS,” terang dia.

Irin menambahkan data angka kematian bumil tahun 2018 di Ponorogo ada 87 per 100 ribu kelahiran hidup. Data ini jauh lebih sedikit dibandingkan Jatim yang mencapai 91,45 per 100 ribu kelahiran. Bahkan nasional pun mencapai 102 per 100 ribu kelahiran.

Meski Ponorogo dinilai berhasil menurunkan angka kematian bumil kini pihaknya juga ingin terus menurunkan jumlah tersebut. Caranya, pertama dengan tablet penambah darah kepada remaja putri, kedua edukasi kesehatan reproduksi untuk calon penganten, ketiga pendampingan bumil oleh kader pemantau, dan keempat dengan mengadakan RTK.

“Ponorogo terus berupaya menurunkan angka kematian bumil, terutama kepada bumil dengan risiko tinggi,” pungkas Rahayu.

Baca Juga:   Presiden Iran Berikrar Akan Langkahi Sanksi AS