Rupiah Mulai ‘Tunduk’ Lawan Dolar AS, Sore Ini Jadi Rp13.972

REKANBOLA – Nilai tukar rupiah melemah 0,38 persen atau 52,5 poin menjadi Rp13.972 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis (7/2) sore. Pelemahan ini mulai tampak sejak tadi pagi ketika dibuka melemah 10 poin atawa 0,07 persen ke level Rp13.930 per dolar AS. Padahal, posisi rupiah sebelumnya tercatat Rp13.920 per dolar AS pada Rabu (6/2).

Rupiah melemah bersama mata uang Asia lainnya, antara lain yen Jepang turun 0,03 persen, dolar Singapura melemah 0,04 persen, yuan China turun tipis 0,04 persen, dan Baht juga turun 0,01 persen. Sementara itu won Korea Selatan menukik paling tajam 0,35 persen,

Namun demikian, beberapa mata uang Asia lainnya masih menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen, peso Filipina naik 0,19 persen, rupee India bertambah 0,17 persen, dan ringgit Malaysia naik 0,50 persen.

Di sisi lain, mata uang negara maju juga kompak melemah. Euro turun 0,15 persen, poundsterling Inggris keok 0,25 persen, dolar Kanada melemah 0,20 persen, dan franc Swiss turun tipis 0,05 persen.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan pelemahan nilai tukar mata uang terjadi hampir merata di Asia. Ia menilai sentimen dari global yang menekan pergerakan rupiah adalah kekhawatiran perlambatan ekonomi negara tujuan ekspor di Asia, khususnya negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Akibatnya banyak investor melarikan investasinya ke aset yang lebih aman, yaitu dolar AS, sehingga dolar indeks selama seminggu mengalami kenaikan konsisten,” katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (7/2).

Selain itu, Bank Sentral Eropa mengakui akan terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi di Uni Eropa tahun ini. Khusus Jerman, lanjut Bhima, diprediksi hanya tumbuh 0,7 persen sepanjang 2019 dan Italia kemungkinan besar masuk resesi.

Baca Juga:   Harga Mobil Naik Gara-gara Dolar, Penjualan Mobil Masih Oke

“Ini menjadi sentimen negatif di tengah sentimen Britis Exit (Brexit) yang belum jelas,” terang Bhima.

Selain itu, sentimen perang dagang AS dan China juga belum menemukan titik yang jelas, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan kebuntuan dalam negosiasi perang dagang.

Sedangkan dari dalam negeri, Bhima bilang meskipun pertumbuhan ekonomi berhasil mencapai 5,17 persen, namun belum menjawab ekspektasi inevstor. Menurutnya, inevstor mengharapkan angka pertumbuhan Indonesia lebih tinggi yaitu 5,4 persen.