Sinyal Damai Perang Dagang Angkat Rupiah ke Rp14.492

Rekanbola – Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.492 per dolar Amerika Serikat(AS) pada perdagangan pasar spot Senin pagi (31/12). Posisi ini menguat 76 poin atau 0,52 persen dari akhir pekan lalu, Jumat (28/12).

Di kawasan Asia, rupiah memimpin penguatan mata uang. Diikuti won Korea Selatan yang menguat 0,27 persen, ringgit Malaysia 0,22 persen, dan peso Filipina 0,16 persen. Kemudian, baht Thailand menguat 0,1 persen dan dolar Singapura 0,04 persen.

Namun, dolar Hong Kong dan yen Jepang justru tertahan di zona merah, masing-masing melemah 0,01 persen dan 0,11 persen. Sementara mata uang utama negara maju bergerak variasi. Dolar Australia menguat 0,15 persen, dolar Kanada 0,13 persen, dan franc Swiss 0,08 persen.

Namun, euro Eropa stagnan. Sedangkan poundsterling Inggris dan rubel Rusia berada di zona merah, masing-masing melemah 0,08 persen dan 0,19 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pergerakan rupiah hari ini akan cenderung positif karena sentimen dari tweet Presiden AS Donald Trump yang mengklaim bahwa AS dan China telah memiliki kesepakatan hubungan dagang yang pesat.

“Baru saja melakukan pembicaraan yang panjang dan sangat baik dengan Presiden Xi dari China. Kesepakatan berjalan dengan sangat baik. Jika dibuat, itu akan sangat komprehensif, mencakup semua subjek, bidang dan titik perselisihan. Kemajuan besar sedang dibuat!” tulis Trump dalam akun Twitter miliknya, Sabtu (29/12) waktu AS.

Menurutnya, sentimen positif ini sengaja dimunculkan karena Trump menyadari bahwa  perang dagang telah membuat ekonomi kedua negara sudah sama-sama melambat.

“Tapi ini belum bisa diprediksi ke depan mereka maunya seperti apa,” ujar Dini kepada CNNIndonesia.com, Senin (31/12).

Baca Juga:   10 Status 'penuh kebingungan' ini bikin ngakak sambil tepuk jidat

Selain itu, sentimen penguatan rupiah juga datang dari pelemahan dolar AS juga terjadi karena mata uang Negeri Paman Sam mendapat sentimen negatif dari kembali menurunnya probabilitas kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve pada tahun depan.

“Hal ini karena prospek ekonomi AS ke depan juga masih melempem, jadi bergantung pada fundamentalnya,” imbuhnya.