Soal Honda PCX Listrik, Yamaha Bilang Baterai Mahal

REKANBOLA – Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) menilai masih butuh waktu buat teknologi sepeda motor listrik diterapkan di dalam negeri. YIMM saat ini terus mengevaluasi ekspektasi masyarakat Indonesia pada motor listrik, walau pesaing utamanya, Astra Honda Motor (AHM) sudah memulai penjajakan komersialisasi dengan PCX Electric.

Pada 31 Januari, AHM meluncurkan PCX Electric di Jakarta kendati regulasi kendaraan listrik dari pemerintah belum terbit. Strategi AHM tidak menjual skuter yang belum diuji tipe itu secara ritel melainkan disewakan ke kalangan tertentu.

Presiden Direktur YIMM Minoru Morimoto enggan mengomentari langsung soal upaya AHM dengan PCX Electric, namun dia mengatakan kajian soal motor listrik Yamaha E-Vino di Indonesia masih terus dilakukan.

Pada November 2017 lalu, YIMM memperkenalkan skuter produksi Taiwan, E-Vino, yang sekilas mirip skutik Fino 125 cc. Beda cara dari AHM yang memilih menyewakan PCX Electric seharga Rp2 juta per bulan, YIMM saat itu meminjamkan E-Vino ke berbagai pihak.

Pihak yang dipinjamkan YIMM diketahui yaitu Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI), Universitas Pelita Harapan, The Breeze, dan Kebun Raya Bogor.

“Yamaha sudah mengetes pasar dengan E-Vino, menginvestigasi banyak soal pasar Indonesia. Tetapi saya mau bilang evolusi baterai itu sangat penting, dari berat, masa pakai sebentar, dan juga mahal. Mungkin bukan hanya Yamaha, tetapi juga kompetitor, bahkan industri mobil, bekerja keras menjadikannya lebih baik,” kata Morimoto usai peluncuran MT-15 dan MX King terbaru di Jakarta, Senin (4/2).

“Kami bukan pabrik baterai, kami harus bekerja dengan rekanan, itu tidak begitu mudah,” lanjutnya.

Menurut Morimoto prinsipal Yamaha di Jepang tengah bekerja keras mempersiapkan kendaraan listrik. Disebut hal yang dipelajari bukan hanya soal battery control unit, tetapi juga bodi.

Baca Juga:   Motor Juga Bisa Overheat, Berikut 5 Cara Menanganinya

“Kami perlu pergi ke sana, tetapi kadang kami pikir itu masih terlalu dini. Maksud saya soal teknologi,” ucap Morimoto.

“Yamaha mengobservasi situasinya, tetapi baterai itu mahal. Kompetitor kami bila menjualnya tentu sangat mahal, tidak bagus dalam hal pemasaran. Banyak faktor, performa dan biaya yang perlu diobservasi,” ucapnya pria yang pernah menjabat Executive General Manager Smart Power Vehicles Yamaha selama 3,5 tahun itu.

Sempat ada rumors yang menyebut Yamaha mempersiapkan Nmax berteknologi listrik buat bersaing dengan PCX Electric. Ditanya soal itu, Morimoto mengatakan, “Tidak untuk besok”.