Tahun Lalu, Harga Barang Grosir Naik Lebih Tinggi dari Eceran

Rekanbola – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut kenaikan harga barang di tingkat pedagang grosir pada sepanjang 2018 lebih tinggi ketimbang harga barang di tingkat eceran konsumen.

Hal ini terlihat dari inflasi Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) umum nonmigas yang tercatat sebesar 3,18 pesen, sementara inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 3,13 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kenaikan harga barang di tingkat grosir lebih tinggi dari yang diterima konsumen karena tingginya inflasi dari kelompok barang pertambangan dan penggalian, serta barang industri. Sepanjang tahun lalu, barang pertambangan dan penggalian naik 5,57 persen, sedangkan barang industri naik 3,44 persen.

“Ini karena ada fluktuasi harga komoditas di sektor pertambangan dan penggalian. Lalu, ada kenaikan harga pada mesin-mesin mekanik impor,” ujarnya di Kantor BPS, Rabu (2/1).

Kenaikan harga grosir juga didorong oleh kelompok barang impor nonmigas dan ekspor nonmigas masing-masing 4,59 persen dan 4,06 persen pada tahun lalu. Selain itu, harga barang pertanian ditingkat grosir juga ikut menanjak 0,32 persen.

“Komoditas yang mengalami kenaikan harga, yaitu tomat dengan andil 0,06 persen, daging ayam ras 0,05 persen, bawang merah 0,02 persen, jagung 0,02 persen, dan cabai merah 0,01 persen,” terangnya.

Tak hanya di tingkat barang grosir nonmigas, inflasi yang lebih tinggi dari tingkat harga konsumen juga terjadi pada barang konstruksi grosir sebesar 4,92 persen pada tahun lalu. Hal ini karena ada kenaikan harga pada beberapa bahan bangunan.

“Kenaikan bahan bangunan tertinggi, yaitu besi 1,04 persen, paku, mur, dan baut 0,71 persen, aspal 0,57 persen, batako 0,55 persen, serta batu hias dan batu bangunan 0,54 persen,” katanya.

Baca Juga:   Pajak UMKM Harus Dilengkapi Insentif dan Edukasi

Sementara bila dirinci dari jenis bahan bangunan, inflasi tertinggi untuk tingkat grosir terjadi pada kelompok bangunan pekerjaan umum untuk jalan, jembatan, dan pelabuhan sebesar 6,33 persen. Lalu, kelompok bahan bangunan pekerjaan umum untuk pertanian dan instalansi listrik, gas, air minum, serta komunikasi, masing-masing inflasi 5,04 persen.

Sedangkan inflasi dari kelompok bahan bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal sebesar 4,4 persen dan kelompok bahan bangunan lainnya inflasi 3,9 persen.

Sementara bila dibandingkan dengan inflasi di tingkat konsumen, kenaikan harga terjadi pada bensin dengan andil 0,26 persen, beras 0,13 persen, rokok kretek filter 0,13 persen, daging ayam ras 0,12 persen, dan ikan segar 0,1 persen.

“Kemudian, juga disumbang oleh tarif angkutan udara, tarif sewa rumah, bawang merah, nasi dengan lauk, dan rokok kretek,” pungkasnya.