Wanita Lompat dari Apartemen di Depok Sempat Curhat di Medsos Ingin Bunuh Diri

REKANBOLA – Reni (25) mahasiswi tewas bunuh diri di Apartemen Margonda Residence 5 diduga mengalami depresi sebelum ditemukan tidak bernyawa. Hal itu terlihat dalam dinding media sosial miliknya.

Reni sempat curhat dirinya adalah korban bullying. Dia juga menceritakan kenapa orang-orang berulang dengki.

“Masalah terus menghantam bertubi-tubi. Dalam hati rasa ingin bunuh diri. Siapa yang sebenarnya korban di sini? Kenapa semua membully? Seakan sayalah tersangka utamanya.”

“Koo manusia julid itu di mana mana ya. Ga di WhatsaApp ga di facebook. Suka lucu aja”

Sosiolog Devie Rahmawati menuturkan apa yang dilakukan korban adalah bentuk ekspresinya. Ketika dia menuliskan perasaannya di medsos maka dia ingin meluapkan apa yang tidak bisa diungkapkan secara langsung.

“Ini (curhat di medsos sebelum bunuh diri) merupakan salah satu cara mengekspresikan emosi. Di sinilah diperlukan peranan orang terdekat yang seharusnya bisa memberikan perhatian padanya,” kata Devie saat dihubungi, Selasa (12/3).

Orang yang curhat di medsos bisa jadi bahwa dia merasa tidak memiliki ruang di kehidupan nyata. Sehingga dia merasa lebih nyaman curhat di medsos.

“Nah kita tidak ada salahnya memberikan perhatian, di mana jika ada orang yang menampakkan gejala stres, depresi atau tertekan, minimal kita menegur. Hanya sekadar menanyakan kabar dan mendengar ceritanya, itu sudah membuat seseorang merasa diperhatikan,” ungkapnya.

Menurutnya, ada tiga faktor yang membuat seseorang memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidup. Pertama, karena kesepian. Kedua, faktor generasi yang mengedepankan kesempurnaan. Ketiga faktor lemahnya hubungan sosial di dunia nyata. Faktor kesepian ini banyak terjadi di era modern yang membuat orang merasa terisolasi.

Sementara, faktor generasi yang mengedepankan kesempurnaan timbul terutama di era digital yang membuat orang berlomba-lomba memamerkan yang terbaik.

Baca Juga:   Balas Budi, Paus Selamatkan Pria Ini dari Serangan Hiu Ganas

“Ini membuat sebagian orang malah tidak percaya diri jika tidak menemukan dirinya seperti orang lain. Apalagi di media sosial menjadi panggung orang memamerkan hal yang indah, cantik dan citra-citra yang baik. Ini membuat seseorang jadi membandingkan dirinya dengan orang lain,” paparnya.

Devie menuturkan, kepedulian terhadap sesama saat ini perlu dipupuk kembali. Dan ketika menemui orang terindikasi depresi, ada baiknya orang terdekat memberikan perhatian dengan cara menyapa dengan baik. Sehingga mereka merasa memiliki teman untuk bercerita.

“Kita harus punya sensitivitas terhadap orang-orang tersebut. Minimal kita menyapa dengan nada yang senang dan bahagia. Jangan sampai menggurui atau menghakimi,” tambahnya.

Runtuhnya relasi sosial di kehidupan nyata menurut dia dipengaruhi banyak hal. Misalnya karena kompetisi ekonomi hingga keinginan untuk mendapatkan pujian di medsos. Yang terjadi saat ini adalah banyak orang terfokus pada kehidupan di medsos ketimbang kehidupan nyata.

“Sekarang ini orang lebih fokus ke gawai. Gawai tidak dijadikan sebagai sarana silaturahmi. Orang berlomba-lomba mengejar likes dan followers. Padahal semua itu sifatnya semu. Malah membuat orang yang dekat menjadi jauh, bukan mendekatkan yang jauh,” katanya.