Warga Korsel Konsumsi Banyak Babi saat Polusi Memburuk, Kenapa?

REKANBOLA – Ada sebuah fenomena unik yang terjadi di Korea Selatan. Setiap kali polusi udara meningkat, penjualan daging babi juga naik.  

Korelasi unik ini berakar dari kepercayaan lama yang dikaitkan dengan penambang batu bara. Mereka percaya bahwa minyak babi yang licin membantu membersihkan kotoran dari tenggorokan mereka.

Untuk siswa sekolah menengah Han Dong-jae, mengonsumsi daging babi panggang berminyak pada hari yang berasap dan berdebu adalah pelajaran hidup yang diserap dari ibu mereka.

“Aku makan lebih banyak daging babi ketika banyak debu halus yang tebal seperti hari ini,” kata remaja 15 tahun itu, seperti dilansir dari The Star.

Ia menganggap bahwa hal itu cukup membantu. Sebab, daging babi mengandung minyak yang bisa menenangkan tenggorokannya.

Para ilmuwan mengatakan bahwa tidak ada alasan ilmiah dari kepercayaan itu. Tetapi data E-Mart dan Lotte Mart menunjukkan, penjualan daging babi melonjak sekitar 20 persen dibanding biasanya sepanjang 28 Februari hingga 5 Maret 2019. Ini terjadi ketika polutan menyelimuti sebagian besar wilayah di Korea Selatan.

View this post on Instagram

Countries like India and China are widely known for their poor air quality, but did you know that air pollution is a serious environmental issue in Korea, as well? Some days Seoul is hardly visible due to the micro dust particles. On really bad days the government sends out mass alerts to the people notifying them of the severity of the dust. Some say the poor air pollution is because of China, including China's coal plants, the sheer scale of its population and abundant vehicle emissions contribute to dirty air across the region. Additionally yellow dust generated in China's northern deserts — picks up industrial pollutants when it wafts over from the west. But South Korea's reliance on coal plants and diesel fuel for its vehicles contributes to local pollution. About 50 coal plants already help power the country, and it has pledged to build a dozen more by 2021. According to the World Health Organnization 4.2 million deaths every year are linked to the exposure to ambient outdoor air pollution and 91% of the global population lives in places where air quality exceeds WHO guideline limits. We’ve been having a few days here where the pollution levels are labeled as „very unhealthy“ and I can tell that It affects a lot of peoples health. #smog #airpollution #healthylifestyle #southkorea #seoul #exchangestudent

A post shared by Pia Rhymes With Korea (@piarhymeswithkorea) on

Saat ini Korea Selatan memang tengah berjuang melawan polusi udara. Udara itu merupakan kombinasi emisi domestik dari pembangkit listrik dan mobil berbahan bakar batu bara. Belum lagi ditambah polutan yang masuk dari China dan Korea Utara.

Menurut data dari Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi (OECD), kualitas udara Korea Selatan mencapai yang terburuk tahun ini dibanding tahun sebelumnya. Bahkan otoritas setempat menyebutnya sebagai bencana sosial.

Polusi udara pun memengaruhi kebijakan dan bisnis di Korea Selatan, terutama saham perusahaan pembuat masker lantaran naiknya permintaan pada pemesanan masker dan pembersih udara.

Baca Juga:   4 Kisah Tragis di Hari April Mop yang Disangka Lelucon