Warga Medan dihebohkan kiriman paket dari China

Rekanbola – Pengiriman paket tak dipesan dari China kini marak di Medan. Bahkan Ketua Bawaslu Sumut, Syafrida R Rasahan, pun menerima kiriman itu.

Syafrida terkejut begitu stafnya melaporkan ada kurir yang mengantarkan barang dari China ke kantor Bawaslu Sumut, Jalan Adam Malik, Medan, Rabu (19/9). Nama Ida Rasahan, yang mengacu pada nama Syafrida, tertera sebagai penerima barang.

Sesuai yang tertera di paket itu, penerima diminta membayar Rp 228.589 ditambah ongkos kirim Rp 30.000. Staf Bawaslu Sumut yang bertemu dengan sang kurir membayar saja tagihan itu, karena menduga paket itu memang dipesan Syafrida.

“Padahal saya tidak pernah memesannya,” kata Syafrida di Kantor Bawaslu Sumut.

Dia mengaku khawatir karena sebelumnya mendapat informasi mengenai kejadian serupa di Yogyakarta yang viral di media sosial. Nama pengirim juga sama, yakni Tang Li dari Guangzhou, Guangdong, China.

Paket itu pun tak dibuka. “Saya khawatir isinya barang berbahaya yang dilarang undang undang. Kedua, saya merasa ini modus penipuan yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab, ini sangat merugikan, saya akan mepaorkan pada pihak yang berwajib atau lembaga konsumen,” jelas Syafrida.

Kurir pengirim barang itu, Dony Rotama (24) kemudian dipanggil dari kantornya yang juga ada di Jalan Adam Malik. Dia datang ke kantor Bawaslu Sumut.

Dony menjelaskan, Syafrida bukan satu-satunya penerima paket yang merasa tak memesan barang itu. Warga Jalan Starban, Polonia ini mengatakan, setiap hari terdapat lebih dari 10 paket dari China yang diantarkannya, tetapi tidak diakui oleh nama yang tertera sebagai penerima. Seingatnya pengiriman serupa sudah terjadi dalam 2 bulan terakhir.

Seluruhnya dikirim seseorang bernama Tang Lie dari China. Pengiriman ke Medan dilakukan via Jakarta. “Banyak bang, kadang ada yang enggak merasa pesan, banyak yang tidak pesanlah bang,” katanya.

Baca Juga:   Leoni Angela, Make-up Artist Kota Medan Yang Cantiknya Kebangetan !!

Harga cash on delivery (COD) yang harus dibayar penerima bervariasi. Mulai dari seratusan ribu rupiah hingga di atas Rp 1 juta.

Menurut dia, sekitar 70 persen paket itu diretur, karena penerima menolak. Lebih kurang 30 persen penerima rela membayar, seperti yang terjadi pada staf Syafrida.

“Ada juga yang terima, ditengoknya, bayar. Isinya macam-macam, ada cincin, ada jam, ada sepatu. Ada juga yang mau membayar,” jelas Dony.