Wow! Robot Canggih Ini Masak Burger dalam Waktu 5 Menit

Rekanbola – Restoran bernama Creator di San Francisco, AS menyajikan burger yang dimasak oleh robot. Robot tersebut bisa membuat lebih dari 130 burger dalam satu jam.

Sudah banyak robot diciptakan dalam dunia kuliner. Seperti robot pembuat sushi hingga penyeduh teh hijau di Jepang. Baru-baru ini hadir robot canggih pembuat burger. Proyek robot ini dibuat selama delapan tahun.

Robot setinggi 1.2 meter ini membuat burger dari proses awal. Mulai dari menggiling daging, mengiris keju, memanggang roti hingga menuangkan saus. Hanya dibutuhkan waktu selama lima menit untuk membuat satu porsi burger. Sehingga dalam waktu satu jam, robot ini bisa membuat lebih dari 130 burger.

Wow! Robot Canggih Ini Masak Burger dalam Waktu 5 Menit

Walau dibuat dengan robot canggih, harga burger di sini tidaklah mahal. Satu porsi burger dibanderol sebesar $6 (Rp 85.000). Ternyata ada alasan logis dibalik hal ini. Berdasarkan keterangan pendiri Creator, penghematan tenaga kerja dan ruang dapur jadi alasan utama.

“Kebanyakan datang dari penghematan tenaga kerja dan penghematan ruang masak yang hanya disediakan untuk seorang juru masak (robot). Kami menghabiskan (biaya) untuk bahan-bahan daripada restoran burger lainnya,” ungkap Salah satu pendiri Creator bernama Alex Vardakostas pada This Is Insider (22/6).

Wow! Robot Canggih Ini Masak Burger dalam Waktu 5 Menit

Walau demikian, restoran ini tetap mempekerjakan pramusaji. Pramusajinya dibayar sebesar $16 (Rp 226 ribu) per jam. Angka tersebut lebih besar dibanding upah minimun San Francisco. Pramusaji di sini juga akan diberi edukasi terkait sistem penggunaan hingga cara memperbaiki robot pembuat burger. Serta diberi uang jajan khusus untuk belanja buku dan kelas Coursera, kelas belajar online di berbagai Universitas di internet.

Wow! Robot Canggih Ini Masak Burger dalam Waktu 5 Menit

Dengan adanya robot ini, pendiri Creator mengaku bisa menghemat biaya sebesar $90.000 (Rp 1.2 miliar) per tahun dibanding gerai fast food umumnya. Ia juga mengaku kalau inovasi yang diciptakan tidak sepenuhnya digunakan untuk mengefisiensi jumlah karyawan.

Baca Juga:   Kominfo Bisa Saja Blokir PUBG, Jika...

“Ide terkait tak adanya interaksi pada seseorang tampak seperti dysopia (hal yang tidak layak). Dalam poin ini kami yakin bahwa Anda tidak bisa mengotomatisasi kreativitas dan interaksi sosial,” tutur Vardakostas.

Karenanya ia lebih memilih untuk tetap mempekerjakan manusia. Bahkan mengedukasi pekerjanya agar lebih kreatif.

 

 

(Sumber : detik.com)